Red-Joss.com – Pagi ini saya terbangun agak lebih pagi dari biasanya. Setelah mengucap syukur, saya menggosok gigi dan cuci muka. Saya minum air hangat, lalu membaca WhatsApp.
Pagi ini yang pertama kubaca tulisan seperti ini:
“Rest in love! Meskipun rumahmu (nama) telah berbalut tanah, namun kebaikanmu selama hidup akan terus membuatmu bernafas dalam hati dan jiwa kami. Selamat jalan sahabatku, terimakasih telah mewarnai hidup kami dengan kegembiraan.”
Setiap hari bisa 2 bahkan 3 kali ada berita kematian seperti ini.
Entah kenal atau tidak, biasanya saya merespons dengan “Rest In Peace Ibu, Bapak, saudara… Selamat menikmati hidup baru dalam damai abadi di surga.”
Tidak kenal secara pribadi, mengapa mesti mengucapkan turut berduka?
Ucapan itu, bagiku, adalah kebaikan paling minimal yang masih dapat saya lakukan untuk sesama yang sedang menjalani tahapan terakhir hidupnya di dunia. “Siapa tahu, dia yang saya doakan itu, merasa ditemani di saat akhir hidupnya.
Dari peritiwa seperti ini selalu mengingatkanku pada doa seorang penjahat yang disalib bersama Yesus:
“Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Penjahat yang hampir mati itu percaya, bahwa Yesus adalah Tuhan dari suatu kerajaan yang tidak dapat lenyap oleh maut.
Jawab-Nya, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama dengan Aku di dalam Firdaus.”
“Menakjubkan!“
Sekecil apapun teruslah berbenah dan berbenah.
…
Jlitheng

