Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Wajah kita adalah ekspresi jati diri kita.”
(Ekspresi Kisah Hidup)
Inilah kabar baik dari ekspresi sederetan pajanan wajah. Antara: wajahku, wajahmu, wajah kamu, dan juga wajah kita.
Sungguh, sekeping wajah telah mewakili, siapakah si pemilik sekeping wajah itu.
Ternyata, wajah kita sudah sangat dikenal oleh sesama. Bahkan garis-garis kerutan halus juga diketahui.
Si Randy itu, ekspresi wajah periang dan tak kenal susah. Si Dendy itu, bagai wajah sang filsuf. Si Tina itu, ekspresi wajah sang artis yang masih kalah tenar. Serta si Wulan itu, wajah artis yang sedang naik daun. Tidak kalah seru adalah wajah Bang Zuma, bagai playboy yang hidupnya laksana bunglon.
Itulah sederetan sentilan keakraban yang biasa terlontar spontan dalam kerumunan warga, saat mereka bergurau antar sesama. Tak ada yang tersinggung dan tak ada yang merasa terhina lewat sentilan keakraban itu.
Namun, apa yang sesungguhnya sedang ‘terjadi, ada, pun makna’ dari balik sentilan gurauan itu?
Semua sentilan berhikmah itu justru mau menggambarkan apa?
Jika kita tetap mau untuk bersikap konsisten, bahwa ekspresi dari sekeping wajah itu justru menggambarkan isi hati serta pergulatan batin sang pemilik wajah itu, maka itulah seraut wajah sejati kita.
Lewat ekspresi sendu atau gembira, gerak bola-bola mata, kerlingan ekor mata, senyum hambar atau riang itu telah mengekspresikan realitas emosi personal kita.
Bahwa bola mata dan aura wajah itu telah memancarkan keaslian jati diri kita.
Sesungguhnya, sang kebijaksanaan telah tulus mengedukasi kita, bahwa belajarlah untuk menerima dan ikhlas menjadi diri sendiri!
Hendaklah kita rela melepaskan topeng hidup kita, dan setia memancarkan ekspresi wajah sejati kita!
Kediri, 11 Maret 2024

