“Prayer is the key to heaven, but Faith unlocks the door.” -Rio, Scj
Kenapa Edelweiss dijuluki bunga keabadian. Dalam bahasa Jerman: Edelweis berarti mulia dan putih. Edelweiss merupakan bunga yang hidup di atas gunung dengan ketinggian 1800-3000. Ada banyak varietasnya tersebar dari Eropa sampai Asia. Tumbuhan ini mengandung hormon etilen yang membuat bunganya mekar sampai 10 tahun. Karena itulah ia dijuluki bunga abadi.
Bunga abadi ini mengajari kita dua hal sederhana ini.
- Pertama: Challenge. Untuk tumbuh, bunga abadi ini ditempa dengan ekstrimnya suhu dan tempat. Meski begitu ia tetap tumbuh, menghadapi situasi penuh tantangan itu dengan senyum. Terima kasih untuk dapat tumbuh, ubahlah tantangan itu jadi peluang. “Challenge is opportunity.”
- Kedua: Berbunga dan berbuah. Perjuangan yang tidak mudah akhirnya mendatangkan berkat. Karena berkat yang diperjuangkan itu akan tetap bertahan. Tetap abadi. Begitu pula hidup yang di perjuangkan tidak secara instan itu akan terus bertahan dan jadi berkat yang tahan lama.
Kini, bila hidup penuh tantangan itu tanda kita bertumbuh, dan awal menghasilkan buah yang tetap bertahan. “Vita est brevis” – hidup itu singkat, pendek, dan hidup itu sementara. Meski sementara, tapi bisa menghantar kita masuk Surga. Kuncinya sederhana, percaya pada Tuhan Sang keabadian dan gunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan itu untuk kesucian dan kebaikan.
Mariane Williamson dalam buku “Return to Love” mengatakan, “Ketakutan terbesar kita bukanlah karena kita tidak mampu, ketakutan terbesar kita adalah karena kita sangatlah mampu.” Pesan yang mengajari kita untuk mengandalkan Tuhan dalam hidup. Kadang kemampuan membuat kita sombong. Kadang kehebatan membuat kita tidak peduli pada diri dan orang lain, apalagi pada Tuhan. Ingatlah Tuhan memilih yang mau bukan yang mampu. Yang mampu mengandalkan diri, yang mau mengandalkan Tuhan dan Dialah yang memampukan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

