“Tertusuk duri itu sakit. Duri dalam daging membuat tubuh nyeri dan panas dingin. Duri dosa membuat kita menderita dan binasa.” -Mas Redjo
…
Sadar diri, saya tidak mau jadi duri. Apalagi duri untuk melukai nurani insani, baik lewat kata-kata, pikiran, tatapan mata, maupun perilaku hidup keseharian.
Saya harus membuang jauh duri-duri itu dalam hidup keseharian ini. Caranya dengan berpikiran positif, berkata-kata baik, dan berperilaku kasih.
Adalah suatu kemustahilan, jika saya mampu melakukan hal itu dengan mengandalkan diri sendiri. Tapi dengan mengandalkan Tuhan dan lewat perilaku hidup doa untuk mewujudnyatakan kasih itu pada sesama.
Hidup doa untuk memulai hari baru dan mensyukuri anugerah Tuhan yang senantiasa baru agar hidup kita dari hari ke hari makin baik.
Saya menghidupi doa itu sebagai silih atas perbuatan dosa-dosa saya selama ini dengan melalui jalan pertobatan menuju hidup kekudusan.
Setiap bangun pagi, saya mohon bimbingan karunia Roh Kudus agar sepanjang hari, hidup ini diarahkan dan fokus untuk melayani Tuhan. Tidak untuk melakukan hal-hal besar dan hebat, tapi lewat jalan kesederhanaan yang didasari kasih. Dimulai dari keluarga sendiri dan lingkungan sekitar.
Dengan selalu berpikir positif, saya mengendalikan mulut ini untuk berkata-kata lembut, sopan, dan baik. Mata untuk memancarkan sukacita dan kedamaian. Telinga untuk banyak mendengar, karena saya menghargai dan menghormati lawan bicara.
Selalu komitmen untuk mendisiplinkan kebiasaan hidup doa yang baik, saya mengendalikan perilaku kasih agar duri-duri dosa itu tidak tumbuh di hati ini.
…
Mas Redjo

