| Red-Joss.com | Duri itu tajam. Saat duri itu ada di dalam daging memberikan rasa sakit.
Santo Paulus menggambarkan pengalaman masa lalunya itu seperti duri di dalam daging. Karena merasa bersalah, bodoh, dan sakit sekali.
Pribadi Santo Paulus itu luar biasa, karena ia bisa berdamai dengan diri sendiri. Sehingga ia sembuh. Ia memperoleh terang, tapi dia minta pada Tuhan, duri dalam dagingnya tidak diambil supaya ia bisa merasakan kasih Allah yang makin kuat.
Akhirnya, ia dapat melihat gambaran dirinya seperti bejana tanah liat, sebagai seorang pelari maraton, dan seorang yang mendirikan kemah.
Intinya: tidak ada yang kekal selain dalam diri Allah. Ia tahu kepada siapa ia percaya. Hingga akhirnya ia melihat Allah dari wajah ke wajah.
Beranikah kita tetap membiarkan ‘duri’ itu ada pada daging kita? ‘Duri’ itu adalah rasa sakit, kelemahan, dosa kita yang disembunyikan.
Jangan takut! Mengapa? Tubuh ini adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 3: 16). Di situ bersemayam Roh Penghibur yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Roh itu berasal dari Bapa dan Putera. Bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.
Daging yang ada durinya itu juga bisa dikuduskan. Juga bisa menyembah Allah Tritunggal Maha Kudus. Karena dalam relasi Bapa, Putera dan Roh Kudus itu ada sumber kasih yang “mendamaikan, menyembuhkan, dan menyegarkan.”
Duri dalam daging adalah identitas kemanusian kita. Sedangkan kasih Allah adalah keberadaan dari identitas Allah yang mengagumkan.
Ketahuilah diri ini dan kenalilah kasih Allah. Lalu pertemukan itu dalam satu kata, yaitu ‘percaya’. Dengan kata ini hidup kita terkoneksi dengan Allah yang adalah kasih.
Temukan kasih yang nyata, bukan kasih yang semu. Hiduplah dalam kasih yang nyata, bukan kasih yang semu. Lalu bagikan kasih yang nyata itu pada sesama.
Kasih yang nyata itu telah diberikan oleh Yesus Kristus, Sang Alfa dan Omega.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

