Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Ketika realitas di dunia kita kini, mulai serba terbalik, pada mulanya, lahirlah banyak sikap menantang, berupa reaksi protes. “Mengapa, terjadi demikian. Bukankah kita masih waras?”
Faktanya, dunia kita ini, justru bersikap adem ayem. Bersikap masa bodoh. Tidak ada lagi reaksi protes atau pun sikap menantang. Semua pihak seolah-olah mulai mengerti dan dengan sikap malu-malu memasuki dunia baru itu.
Realitas kini, dunia yang benar, justru sebuah dunia yang serba miring, alias sebuah dunia yang serba terbalik.
Ketika hati manusia kian berdebu dan kotor, maka lahirlah hukum kehidupan yang baru. Sebuah hukum yang serba terbalik seirama kotornya hati manusia.
Kini, hal-hal yang benar, malah dianggap salah, dan hal yang salah, justru dianggap benar! Itulah realitas dunia kita. Kanan berubah menjadi kiri, dan timur telah bertukar menjadi barat. Sungguh edan!
Ketika Anda berkata, “Saya mencintaimu!”
Ada pun maksud serta maknanya, justru “Saya membencimu!”
Tatkala seseorang berkata, “Saya sangat lapar!” Pernyataan itu justru bermakna, “Saya sungguh kenyang!”
Ada fakta kini, orang yang tidak bersalah, malah dijebloskan ke dalam penjara. Sedangkan pihak yang bersalah, justru hidup bebas merdeka. Inilah realitas dunia kita kini. Sebuah dunia pincang, bahkan cacat total.
Ternyata, semua keanehan itu bermula sebagai dampak dari hati manusia yang mulai kotor dan bercacat.
Bagaimana caranya kita mengembalikan ke keadaan semula? Jawabannya, semuanya kembali ke dalam diri manusia itu.
Tentu, hanya orang-orang yang berhati bersih, yang mampu mengembalikan keadaan ini ke keadaan normal seperti semula.
Hai sang Ratu Adil, di manakah kini, Engkau berada?
“Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Di luar Aku, tidak ada keselamatan!”
…
Kediri, 7ย Septemberย 2023

