| Red-Joss.com | Manusia itu cepat berubah: wajah dan hatinya. Jika sedang senang, pujiannya selangit. Jika sedang benci yang muncul hanyalah caci-maki. Memang lidah manusia itu tidak mudah dipegang. Kita harus hati-hati. Kita tidak usah percaya 100%, tapi cukup 90% dan yang 10% untuk berjaga-jaga, supaya tidak menyesal.
Perubahan itu mudah dilihat dari wajahnya atau hatinya yang terekspresikan dari mulutnya. Juga mudah ditebak, dia sedang memuji setinggi langit atau sedang mencaci-maki. Saat dia sedang memuji, tersenyumlah dan ucapkan terima kasih, tetapi saat dia sedang mencaci-maki, dengarkan sejenak, lalu pergi tinggalkan saja sebelum kuping ini menjadi merah.
Jika dibilang manusia itu lucu, ya begitulah faktanya, bisa berubah dengan dua wajah dan dua hati.
Aku kadang bercermin untuk melihat perubahan wajah sendiri. Setiap saat, aku merenung dalam hening untuk merasakan apa yang ada di hati ini. Tujuannya supaya aku menyadari saat ada perubahan itu. Saat ada perubahan itu, aku bertanya, “Ada apa denganmu?” Tidak mungkin yang satu diserang lebih dari satu. Sebaiknya, yang satu diajak bersama-sama supaya ada harmoni.
Jika wajahnya satu dan hatinya satu, diharapkan sama yang dilihat dan dirasakan, yaitu bersatu. Jika tidak satu hati, ya tercerai-berai. Kalau sudah tercerai-berai susah sekali untuk disatukan, kecuali ada mukjizat pertobatan dan pengampunan. Itu pun hatinya harus disembuhkan terlebih dulu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

