| Red-Joss.com | Dosa pendengaran adalah tema ketiga dan terakhir dari ‘triduum’ yang oleh satu komunitas khusus direnungkan dalam khalwat pra Pekan Suci.
(1) dosa kelalaian,
(2) dosa karena mata, dan
(3) dosa karena indera pendengaran (telinga).
Apakah hal ini dikaitkan dengan 3 prasetya mereka: kesucian, kemiskinan dan ketaatan, saya hanya bisa mengatakan ‘mungkin’. Saya hanya sebatas urun wawasan sebatas awam yang tak pantas ini.
Sebuah contoh kerendahan hati yang mendalam, ketika seseorang atau sekelompok komunitas sanggup berkaca dari dunia untuk melihat “apa jalannya ke Surga masih pada jalur yang benar.”
Untuk itu, kutawarkan satu refleksi tentang “bagaimana awal mula manusia berdosa.” Untuk menjawab pertanyaan kenapa doa, matiraga, kaul, seolah tak berdaya melawan arus dunia.
Dari kisah Kitab Kejadian, kita bisa melihat setan seolah begitu mudah mengelabuhi Hawa, dengan muslihat dan rayuan mautnya.
Muslihat berarti daya upaya, siasat atau taktik yang dipakai untuk menjebak seseorang atau sekelompok orang.
Dalam bahasa Inggris, muslihat dikenal dengan istilah ‘deception’ yang berarti perbuatan atau pernyataan yang menyesatkan, menyembunyikan kebenaran, atau bahkan menyebarluaskan dan membuat orang percaya terhadap hal-hal yang belum tentu benar.
Muslihat dengan merayu artinya membujuk, menipu, memikat, menggoda, yang tujuannya menyesatkan dari jalan yang sebenarnya, agar dapat diperdaya untuk kepentingan personal.
Pertama kali setan sukses mengelabuhi Eva (Kej. 3) dengan menyerang indera pendengarannya (telinga) pakai rayuan mautnya. Sehingga sepanjang masa setan mengulangi tak henti.
Banyak manusia tanpa sadar mengadopsi daya merayu si setan, demi hasrat pribadinya. Tanpa sadar telah menjadi ‘follower’ setan itu.
Satu-satunya cara menang melawan kuasa setan, yakni menggunakan perlengkapan senjata Allah yaitu ketopong keselamatan, perisai iman, ikat pinggang kebenaran, kasut kerelaan, pedang dan baju zirah keadilan (Efesus 6: 11). Firman Tuhan adalah kunci untuk menang dari kuasa setan.
Selamat memetik buah-buah penebusan yang akan disempurnakan lewat salib. Jika tak kau potong salib itu, setan takkan berani mengganggu.
Salam sehat. Bahagia menyongsong Pekan Suci.
…
Jlitheng

