Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia telah menimbulkan keresahan pada sebagian orang. Alih-alih pesimistis, mereka ikut gerakan mendonasikan buku. Tindakan yang patut dicontoh.”
…
| Red-Joss.com | Bangsa yang maju adalah bangsa yang masyarakatnya sangat peduli pada vitalnya aspek pendidikan.
Ujung tombak dari ranah pendidikan adalah budaya berliterasi yang dimikiki para warganya.
Tulisan berlatar belakang aspek edukasi ini dihadirkan, karena saya terinspirasi oleh sebuah tulisan berjudul, “Donasikan Bukumu Sekarang” di harian Kompas, Senin (15/4/2024), kolom Humaniora.
Patut kita acungi jempol kepada siapa pun yang sungguh peduli kepada aspek kemajuan kemanusiaan.
Menerima kenyataan rendahnya literasi masyarakat Indonesia memang menyebalkan. Masalah utamanya bukan cuma pada minat baca, melainkan juga ketersediaan buku yang tidak merata. Daripada mengecam keadaan, sejumlah orang memilih bergerak mendonasikan buku untuk mendekatkan akses bacaan ke masyarakat, demikian pengantar oleh Tatang Mulyana Sinaga.
Ia adalah seorang yang peduli untuk mendonasikan buku-bukunya.
Hardoni (33) karyawan suatu Bank Swasta yang menyediakan buku bacaan (berlamari) di samping Taman Fatahilllah, Jakarta.
Mengapa ia sangat peduli? Ternyata inilah alasan mendasarnya.
Karena skor membaca untuk Indonesia, menurut Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada 2022, turun 12 poin menjadi 359 dibandingkan tahun 2018 dengan skor 371. Selain itu, berdasar hasil Asesmen Nasional tahun 2021, satu dari dua peserta didik jenjang sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) juga belum mencapai kompetensi minimum literasi.
Selain itu, minat baca masyarakat Indonesia juga hanya 0,001 persen. Berarti, cuma 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca.
Atas dasar data dan fakta miris ini, beliau turun tangan dan membuka hati untuk mendonasikan buku-bukunya pada masyarakat.
Inilah sebuah fakta menarik tentang betapa pedulinya seorang warga masyarakat yang patut kita diacungi jempol.
Nampaknya upaya beliau hanya bagai mencari jarum di dalam sekam alias bagai menggarami lautan, tapi justru berdampak sangat besar bagi kemanusiaan.
Karena bukankah tindakan semulia ini seperti juga adagium, “Sehari selembar benang, lambat laun menjadi sehelai kain?”
Semoga lewat tulisan ini, ada banyak Hardoni baru yang juga tergerak hatinya.
“Sungguh mulia hati orang-orang yang rela mempersembahkan dirinya demi membangun kemanusiaan.”
Sesungguhnya, “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku.”
Sebuah tindakan sekecil apa pun akan sungguh bermakna, jika kita melakukannya dengan ketulusan!
…
Kediri, 18 April 2024

