Ada satu pesan whatsapp yang tersebar melalui grup-grup dan diteruskan orang-perorangan, katanya: Setiap tahun kita menekuni berpuasa, berdoa dan beramal, namun hasilnya tidak cukup maksimal. Suatu saat kita jadi orang baik, di waktu lain jadi orang jahat. Hari ini kita memilih berkat, besok bisa berubah jadi kutuk. Pengampunan dan pertobatan terjadi pada saat pengakuan dosa, tapi setelah itu kita kembali berbuat dosa. Kita sepertinya berjuang dengan susah payah untuk jadi orang-orang yang sempurna.
Kita tahu dan mengerti semua larangan yang ditetapkan oleh Allah supaya Musa menyampaikan itu kepada umat Allah untuk mengindahkan sepuluh perintah Allah, seperti yang diwartakan kitab Imamat. Mereka harus kudus seperti Allah dengan tidak mencuri, berdusta, bersumpah palsu, merampas milik orang, iri, benci, marah dan sebagainya. Semua ini dirumuskan secara positif dengan satu hukum utama ialah mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.
Dalam masa Prapaskah ini, sosok orang-orang beriman pengikut Kristus pas untuk digambarkan sebagai pribadi yang berusaha dan bertumbuh dalam mengasihi sesamanya, namun tak luput dari perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan. Misalnya seseorang berbuat amal dengan begitu tekun mengumpulkan sumbangan untuk orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan sandang, pangan, dan papan, namun ia juga terkenal sebagai pemfitnah dan penyebar berita bohong.
Ini adalah contoh, kalau kita yang menjalankan Prapaskah ini bukan sebagai orang-orang suci dan murni. Sebagian hidup rohani kita memang baik dan suci, namun sebagian lain tidak. Yesus Kristus memang mengumpamakan mereka yang di bagian kanan ialah domba-domba dengan amal kasihnya yang besar. Tapu jika mau jujur kita belum sempurna seperti itu. Mereka yang di sebelah kiri ialah kambing-kambing dengan kelalaian besar dalam beramal kasih, tapi mereka juga tidak sepenuhnya jahat seperti itu.
Bisa jadi hampir semua dari kita di dalam masa Prapaskah ini adalah setengah domba dan setengah kambing. Kita para ‘dombing’ di dalam masa Prapaskah ini. Jika kita memang sudah sebagai orang-orang suci dan murni, jelas kita tidak memerlukan masa Prapaskah. Lebih tepatnya kita langsung merayakan Pekan Suci supaya menyatu dengan Kristus yang mati dan bangkit. Tapi ternyata tidak demikian. Sebenarnya, tidak hanya Prapaskah, tapi juga setiap waktu di bumi ini, hidup kita bagaikan ‘dombing’, oleh karena itu kita harus setia kepada Tuhan dan mendapatkan belas kasih kerahiman-Nya.
“Ya, Yesus Kristus, jadilah Guru dan Pengatur hidup kami. Semoga kasih-Mu mengatur hati kami sehingga hanya dapat mengabdi kepada-Mu seumur hidup kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

