Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Persembahan untuk Ayah Bunda di mana pun berada!”
Sang bocah cerdas itu selalu mengulang-ulang seuntai doa pendek agar Ayah dan Bundanya tersayang, segera bertobat dari kelalaian mereka, agar segera menyayangi dia.
“Tuhanku, inilah doaku, semoga besok, Ibu dan Ayahku, sayangi aku.”
Rupanya, untaian doa kecil ini, selalu diulang-ulang sang bocah.
Suatu malam, antara pukul 12.00 atau 01.00 dini hari, kala Ayah Bundanya sedang mengemas sejumlah paket untuk dikirim, terdengar sayup suara bocah itu. Rupanya dia sedang mengigau.
“Tuhan, inilah doaku, semoga besok, Ayah dan Bunda sayangi aku.”
Terperanjat dan lemaslah kedua suami istri itu mendengar alunan doa anaknya. Keduanya spontan beradu pandang penuh penyesalan dan wajah penuh haru.
Keduanya bangkit dari kursi dan segera mendekati ranjang mungil bocah yang terlelap tidur itu.
Ibu itu menciumi pipi kirinya dan Ayah mengecup pipi kanannya. Keduanya larut dalam duka sesal. Seolah baru terjaga dari mimpi panjang.
Keduanya terjaga dan tersadar dari kelalaian panjang dalam kesibukan memaketkan barang-barang pesanan pelanggan baik siang, bahkan sering hingga larut malam.
Sepanggal doa pendek yang bocah kesepian, ketiadaan sayang dan rindu. Tidak ada yang merangkul hangat tubuh mungilnya, tiada lagi sentuhan manja pada manis di bola matanya.
Bocah yang cerdas itu sedang mengembara jiwanya, mencari boneka cinta, merindukan bara api kehangatan. Dia mencari temali cinta, justru di dalam rumahnya sendiri. Sesungguhnya, dialah sang bocah jalanan.
Sejak itu, kedua Ayah Bundanya, walau perlahan, mulai memberikan cinta kepada bocah cerdas itu.
Doa tulus yang mengalir dari kerinduan paling tulus toh segera didengarkan dan dikabulkan Tuhan.
Segala sesuatu, apa pun, dan bagaimana pun, jika Tuhan berkenan, akan terjawab lewat berbagai cara, saat, dan kesempatan emas.
Tuhan, Sang Maha Kasih akan memberikan sesuatu yang terbaik dan terindah tepat pada waktunya, bagi hamba-Nya.
Tuhan, ajarilah kami, para orangtua, agar tidak meninggalkan buah hati kami sendirian berjuang.
Tuhan, Sang Maha Cinta, berikan m di rumah kami, sekeping hati yang sanggup mencintai anak-anak kami.
Amor gignit amoren, Cinta akan melahirkan cinta.
..
Kediri, 2 Januari 2025

