“Jika kita selalu sukses menipu diri sendiri. Siapa yang sanggup untuk mengingatkan kita?” -Mas Redjo
…
Tidak ada! Bahkan aib juga tidak mempan!
Bagaimana tidak. Ketika hendak berbuat hal-hal buruk dan jahat, sejatinya kita telah diingatkan oleh nurani sendiri.
Faktanya banyak orang yang tidak peduli, abai, dan nekad, sehingga berbangga diri dan berkamuflase demi gengsi. Karena ingin hidup mewah, hebat, dan beken!
Ketika topeng kamuflase itu dibuka dan ditelanjangi, bahkan jadi viral. Adakah aib itu membuat kita atau anggota keluarga jadi malu?
Tidak! Faktanya banyak pelaku kejahatan yang kedoknya terbuka, tertangkap, dan bahkan diadili. Mereka tidak juga insyaf dan sadar diri. Sebaliknya banyak di antara mereka makin nekad dan kian tidak keruan.
Apakah mereka berani melakukan kejahatan itu secara berjamaah dan saling melindungi, sehingga kebal hukum?
Bertanya itu tidak salah, asal kita menuduh dan menghakimi.
Alangkah bijak, jika kita mawas diri untuk melihat hikmat dari peristiwa itu. Tujuannya untuk berbenah dan perbaiki diri agar hidup kita makin baik.
Begitu pula, ketika ada anggota keluarga yang sulit diingatkan dan dinasihati, kita tidak boleh patah semangat dan berputus asa. Karena kita mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan semangat kerendahan hati kita berdoa mohon kerahiman-Nya.
Dengan mudah bersyukur kita menumbuhkan harapan, bahwa doa ikhlas itu tidak sia-sia.
Lihat pengalaman iman St Agatha yang bertekun mendoakan suami dan anaknya, Agustinus hingga bertobat. Agustinus dijamah Tuhan. Lewat teladan St Ambrosius, Agustius jadi pujangga Gereja yang terkemuka.
Ingat pula, kisah Saulus yang awalnya memburu dan memusuhi murid-murid Yesus itu jadi seorang Santo. Ketika Tuhan berkendak itu tidak ada yang mustahil. Mukjizat-Nya nyata.
Semangat doa dan ikhlas, karena Tuhan mampu mengubah hati, dan bahkan menggunakan kita sebagai alat-Nya.
Terpujilah Tuhan!
…
Mas Redjo

