Saat aku doa hening, aku menutup mulut ini. Sebab mulut yang banyak berbicara itu tidak mudah untuk diminta diam.
Saat aku doa hening, aku katubkan kedua tangan ini. Saat tangan itu dikatubkan, maka seluruh raga, pikiran, jiwa, dan roh ini disatukan.
Saat aku doa hening, sebentar aku membuka mata ini. Aku memandang salib Tuhan Yesus, lalu memandang Bunda Maria. Dengan perlahan aku menutup kedua mata ini.
Saat aku doa hening, aku membuka hati ini. Izinkan hati berbicara. Suara dari hati itu diungkapkan. Bukan hanya Tuhan yang mendengarkan, tapi diri kita sendiri pun bisa mendengarkannya.
Saat aku doa hening: ‘wawan-hati’ dengan Tuhanku. ‘Wawan-hati’ akan mengalir, karena tidak ada rasa takut dan ragu. Tapi hanya ada rasa damai dan percaya. Kadang, saat kita masih takut dengan seseorang, berpengaruh juga takut dengan Tuhan.
Buah dari doa heningku: “Immanuel” = God is with us = Tuhan beserta kita. Kita tahu kepada siapa kita percaya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

