Ketika hati ini rapuh, seringlah mendoakan: Doa Bapa Kami.
“Beginilah cara berdoa Bapa Kami …” (Matius 6: 9). Doa yang Agung. Salah satu doa pokok yang dimiliki oleh Gereja. Isinya singkat, padat, dan jelas.
Mengapa hati ini rapuh? Itulah yang sering terjadi pada kita. Dalam doa ini disebutkan, “… dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tapi bebaskan kami dari kejahatan” (Matius 6: 13). Tapi apa yang terjadi? Kita tidak tahan dengan godaan dan rayuan si jahat.
Kita berdoa, “Saya mengaku, karena saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan…” Apa yang terjadi? Kita tetap berdosa. Apakah salah, jika disebut hati yang rapuh? Maka seringlah berdoa Bapa Kami, supaya kita diingatkan dengan isi doanya.
Doa Bapa Kami itu tidak sekadar dihafal dan didoakan. Karena isi Doa Bapa Kami adalah tuntunan yang praktis untuk hidup kita sehari-hari. Di antaranya tiga poin ini:
- Ada waktu untuk Tuhan. “Dimuliakanlah nama-Mu” (ayat 9). Hidup kita harus dikuduskan setiap hari untuk memuliakan Yang Maha Kudus.
- Hidup tidak serakah. “Berilah kami rezeki pada hari ini secukupnya” (ayat 11). Ada rezeki setiap hari. Juga kita telah diberi pekerjaan. Tapi ingat, tidak boleh serakah. Apalagi mendapatkan uang dengan cara-cara yang tidak baik itu sangat tidak berkenan di hadapan-Nya.
- Ada pengampunan. “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (ayat 12). Bersalah, dimaafkan. Berdosa, diampuni. Tapi, jangan terus-terusan bersalah, itu namanya ‘ndableg’. Jangan terus-menerus melakukan dosa, itu namanya ‘keras kepala’.
Semoga hati rapuh yang kita miliki itu tidak membawa kita ke dalam banyak kesalahan dan dosa. Sehingga posisinya jauh dari Tuhan. Tapi dengan hati yang rapuh ini, karena kita mudah berbuat salah dan jatuh dalam dosa, kita harus berani datang kepada Tuhan dengan rendah hati untuk mohon ampunan. Sehingga yang kita lakukan itu mendatangkan berkat-berkat yang dibutuhkan. Kita diajak untuk sering mendoakan Doa Bapa Kami ini di banyak kesempatan agar hati kita dipenuhi kasih-Nya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

