Saya senang menggunakan istilah murid zaman dulu dan zaman sekarang. Meskipun, di zaman yang berbeda, tapi mereka mempunyai tugas sama. Tinggal bagaimana caranya untuk menyampaikan berita itu…
Apa hal yang sama dan dialami itu? Langsung bisa dijawab, yaitu kebangkitan Yesus.
Apa yang sama dalam tugas dari kedua kelompok murid zaman dulu dan sekarang? Juga langsung bisa cepat dijawab, yaitu mewartakan Yesus yang bangkit.
Para murid zaman dulu, berjumpa langsung dengan Yesus yang bangkit. Bacaan selama masa Oktaf Paskah ini menyampaikan dengan jelas pengalaman-pengalaman itu dengan reaksi-reaksi yang berbeda. Yang menarik adalah endingnya, karena mereka merasakan kehadiran-Nya seperti semula. Mereka mengalami sukacita, dan merasakan perubahan yang luar biasa, hingga akhirnya nanti, Yesus yang bangkit itu memberikan damai dan Roh Kudus untuk penyertaan pewartaan selanjutnya.
Bagaimana dengan kita? Dengan bercermin kepada pengalaman dari perjalanan dua murid menuju Emmaus. Tiga poin kunci pengalamannya:
- Hati mereka berkobar-kobar mendengarkan penjelasan Kitab Suci.
- Mereka melihat, mengalami dan menyadari saat ‘pemecahan Roti’.
- Mereka bersukacita dan membawa pesan kebangkitan Yesus kepada yang lain. Penegasan berita kebangkitan itu yang sudah mulai beredar.
Cara Yesus hadir dalam penampakkan-Nya itu unik sekali. Secara rohani, kita pun mengalami peristiwa kebangkitan itu. Lalu, dari tempat masing-masing, kita bergerak untuk jadi saksi kebangkitan-Nya. Tapi jangan ditafsirkan secara harafiah. Kita mengisahkan kebangkitan Yesus berarti mencari anggota Gereja sebanyak-banyaknya. Tunggu dulu! Bisa berbahaya, nanti dituduh Kristenisasi. Isu ini selalu jadi isu yang sensitif di mana-mana. Kita tidak masuk dalam area itu. Yang dimaksud dengan mewartakan kebangkitan Yesus adalah mengatakan kepada setiap pribadi tentang hidup yang baru, semangat baru, dan ada pembaharuan hidup yang luar biasa yang dirasakan.
Kebangkitan Yesus membuka hati yang tertutup, takut, ragu, gelisah dan yang tidak percaya. Mungkin ada yang setelah membaca renungan ini ada yang bereaksi, “Ah, saya tidak percaya.” Tapi itu nyata, fakta! Sebab, yang dialami adalah Yesus yang menghadirkan diri-Nya kepada kita secara pribadi. Itulah sebabnya, setiap pengalaman rohani setiap pribadi itu unik, tapi, juga ada kesamaannya. Lihat dan rasakan dengan pengalaman rohani sendiri. Yang penting, kita jujur benar-benar mengalami. Jangan menipu diri sendiri.
Kembali kepada pesan Injil, dari tempat sekarang kita berdiri, diutus untuk jadi saksi kebangkitan-Nya. Caranya bisa berbeda, tapi pesannya tetap sama: Dia sudah bangkit! Alleluya!
Rm. Petrus Santoso SCJ

