| Red-Joss.com | Orang bijak mengatakan: “Hidup ini baik, kalau kita bahagia. Hidup ini akan lebih baik lagi, kalau orang lain juga bahagia karena kita.”
Enak didengar, tapi pasti butuh banyak usaha untuk ke sana, sebab titik hidup ini tidak selalu tinggi.
Ketika pada suatu waktu hidup ini berada pada di titik terendah, rasanya apa-apa sulit. Ekonomi dan juga anak-anak yang sekolah. Kehidupan terasa tidak bersahabat. Capek hati, pikiran, dan badan. Lesu dan tak bersemangat. Bawaannya mau menangis dan menjauh dari semuanya. Kadang diam-diam menangis sendiri. Melepaskan sesak dan berharap tidak ada yang tahu. Dalam kondisi begini, bagaimana bahagia?
Dalam suatu masa pernah merasa tidak ada siapa-siapa untuk mengadu selain hanya pada-Nya. Pada Allah yang tidak pernah jemu mendengar semua keluh dan semua kesah. Pernah kehilangan rasa percaya pada sekitar. Paranoidkah atau apalah itu namanya? Yang jelas sesak di dada beban di pikiran dirasa sendiri. Benar-benar berada di titik terendah. Jika begitu, bagaimana bahagia?
Lantas terkadang ada saja yang menyadarkan kita dari semua keluh kesah itu. Teguran yang datang menghunjam hati. Bisa lewat tulisan nasehat. Quote di media sosial yang bersumber dari Kitab Suci dan atau kisah-kisah rohani inspiratif. Semua dalam dan mengena. Tepat sasaran. Memang benar tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh Tuhan dalam scenario terbaik-Nya. Kita tinggal belajar tahu tanda-tandanya dan menjalani.
Lalu ketika rasa capek, lesu, sedih bergelayut di diri ini, akan membuat diri merasa ujian koq tidak pernah ada habisnya. Selesai satu masalah, santai sejenak, lalu datang lagi masalah baru. Merasa diri ini tidak kuat.
Ya, demikianlah hidup di dunia ini. Penuh ujian dan rintangan. Kadang kita hanya melihat sisi sedih saja. Walau sebenarnya ada sedih ada bahagia. Ketika bahagia lupa untuk bersyukur. Baru diuji sedikit sudah sambat, kita tidak kuat lagi…
Ujian dalam kehidupan ini sejatinya untuk meningkatkan derajat kemanusiaan kita di mata Allah. “Semua ujian dan cobaan yang diberikan justru menunjukkan adanya rasa kasih sayang Allah kepada hamba yang beriman.”
Takut akan Tuhan adalah permulaan dari hikmat (Ams. 9: 10). Dengan menyadari keagungan Allah dan karya-Nya dalam seluruh alam semesta dari dahulu hingga akhir zaman, kita akan belajar untuk sujud menyembah Dia dengan hati yang sungguh-sungguh rela.
Salam sehat dan teduh.
…
Jlitheng

