“Lakukan kewajiban dulu agar hak kita dipenuhi. Jika kita menuntut sebaliknya itu salah alamat.” -Mas Redjo
Bagi saya, memperoleh pekerjaan itu adalah kesempatan emas yang harus disyukuri, sekaligus peluang untuk mengasah kemampuan agar kita makin terampil dan teruji.
Karena itu saya jadi kaget, ketika melihat peristiwa tragis dan miris pemutusan hubungan kerja secara masal, imbas dari karyawan yang mogok kerja. Perusahaan itu tutup, lalu pindah ke daerah.
Ketika mudah sekali digosok dan dihasut itu berarti kita kehilangan rasa bersyukur atas anugerah-Nya. Kita cenderung egois, dan tidak mau mawas diri. Apa dan seberapa besar sumbangsih kita pada perusahaan?
Kita tidak peduli dan menutup mata dengan realita ekonomi dunia yang sedang gonjang ganjing itu. Dimulai dari pandemi, krisis energi, krismon, hingga perang dagang antara USA dan China yang dampaknya luar biasa bagi perekonomian dunia.
Bersyukur dan selalu bersyukur itu saya lakukan agar tidak mudah dihasut dan dimanfaatkan demi kepentingan jahat orang lain.
Saya ingat benar, ketika krismon 1998. Nilai tukar rupiah terpuruk dan bunga bank meroket. Banyak perusahaan mengurangi gaji karyawan, bahkan banyak pula yang gulung tikar.
Saya bersyukur dan sadar diri. Jika ingin maju dalam karier dan sukses itu harus dimulai dari perubahan diri ini untuk memberikan kemampuan yang terbaik bagi perusahaan. Juga di awal kerja kita sepakat dengan gaji yang diterima (apalagi, tenaga ahli).
Ketimbang menuntut perusahaan di depan, alangkah bijak menuntut perubahan diri sendiri untuk jadi pekerja yang berkualitas dan baik. Kita memenuhi kewajiban pada perusahaan, lalu menanyakan hak dengan hasil dan prestasi kita. Jika perusahaan itu tidak mau tahu, kita dapat pindah pekerjaan, karena mempunyai kemampuan. Kartu truf, istilahnya.
Coba direnungkan sebagai bahan refleksi diri. Apakah puas dengan hasil kerja dan pencapaian kita? Tujuannya untuk pembenahan dan perbaikan diri terus menerus. Hidup untuk belajar dan pengembangkan diri. Karena hidup amat bermakna, jika disia-siakan.
Dengan bertanya, saya belajar untuk mengarahkan tujuan hidup sejati dan memaknainya. Saya ingin jadi kepala atau ekor? Saya ingin jadi penonton dan penggembira, atau pelaku usaha?
Sesungguhnya, kita diuji untuk jadi pejuang yang ulet, sabar, dan tangguh. Sepakat?!
Mas Redjo

