“Berani berdamai dengan diri sendiri itu ibarat kita memikul beban berat di jalan mendaki.” – Mas Redjo
…
“Apa yang harus saya lakukan, jika hal itu terjadi padaku?”
Saya berefleksi diri, karena untuk menghadapi kenyataan berat dan pahit itu sulit, bahkan teramat sulit.
Demi menolong keluarga pacar, seorang pemuda rela berkorban dengan memberikan sebagian gaji untuk mensubsidi pacarnya, dan bahkan hingga menjual kendaraan pribadi. Orangtua mana yang tidak marah? Beda masalah, jika mereka telah menikah sebagai suami istri.
Menghibur dan membesarkan hati sahabat yang sedang dihinggapi masalah itu hal biasa, klise, bahkan bisa juga dianggap basa basi. Tapi kita bisa berbuat apa?
Solusi bijak yang utama adalah, mengapa anak melakukan hal itu?! Kita dengarkan alasan anak lebih dulu. Jika anak sudah ngebet untuk menikah, ya, segera dinikahkan.
Faktanya, banyak orangtua yang mudah menghakimi anak. Melihat dari kacamata sendiri. Hal itu aib dan merugikan keluarga. Apakah menikahkan atau mengusir anak itu solusi terbaik?
Bagi saya pribadi, mengusir atau menikahkan anak itu tidak jaminan orangtua bisa terlepas dan bebas dari masalah itu.
Faktanya pikiran kita tidak mudah diajak kompromi dan dibohongi untuk melupakan dan membuang anak begitu saja. Kita mempunyai nurani, apalagi hati seorang Ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkannya.
Perbuatan salah dan vital itu tidak untuk dihakimi dengan menutup pintu maaf, tapi harus dicari solusinya agar tidak jadi beban bagi anak maupun keluarga.
Coba dengarkan anak, dimaafkan, dan beri kesempatan memperbaiki diri.
Beri pula beberapa opsi pilihan agar anak berpikir untuk menjalaninya, berkomitmen dan konsisten mewujudkan niat baiknya untuk berubah serta perbaiki diri. Amati dan lihat perkembangannya.
Jangan pernah hilang perhatian untuk mengingatkan atau bertukar pikiran demi kebaikan anak.
Sesungguhnya, jadi orangtua bijak itu berat dan sulit, tapi kita jangan pernah untuk menghakimi anak.
Sebagai orangtua, kita jangan lelah mengingatkan dengan hati dan mendoakan anak. Kita harus sadar diri, mereka adalah anak-anak kita, sekaligus anak kehidupan yang mempunyai kehendak bebas.
Kita harus berani percaya dan mengimani Tuhan, bahwa rencana kita itu bukan rancangan-Nya (Yes 55: 8-9).
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tapi nyatakan dalam segala hal keinginanmu itu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4: 6).
Sesungguhnya, kita diuji untuk taat dan setia kepada Allah. Ikhlas hati itu berkualitas dan tuntas!
…
Mas Redjo

