“Tuhan tidak mencari untuk menghukum yang hilang, tapi untuk memulihkan dengan kasih yang tak kenal lelah.”
Sabda Tuhan mengingatkan kami, bahwa tidak seorang pun hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak seorang pun mati untuk dirinya sendiri. Baik dalam hidup maupun mati, kami adalah milik-Nya. Tuhan atas yang hidup dan yang mati.
Dalam kebenaran ini, kami menemukan kebebasan sejati:
bahwa nilai kami tidak diukur dari kesempurnaan, melainkan dari kerahiman-Nya yang memanggil kami sebagai milik-Nya. Ia melihat lebih dalam dari kesalahan kami, karena kasih itu bukan hukuman, tapi adalah denyut jantung Kerajaan-Nya.
Injil hari ini menyingkapkan isi hati-Tuhan Yesus, ketika orang Farisi mencela-Nya, karena makan bersama para pendosa. Ia tidak membalas dengan pembelaan, tapi dengan perumpamaan sukacita, yang mengungkapkan kerahiman hati-Nya: tentang Gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk mencari satu yang hilang, dan tentang perempuan yang menyalakan pelita demi menemukan satu dirham yang hilang.
Bagi logika manusia, itu tidak efisien, tapi begitulah kasih Allah bekerja. Kasih-Nya tidak menghitung jumlah, tapi menghitung dengan hati seorang Bapa. Ia itu Gembala yang tak kenal menyerah menelusuri padang hati kami, hingga kami ditemukan, disembuhkan, dan dibawa pulang di bahu-Nya.
Seperti kata Santa Katarina dari Siena,
“Engkau sungguh pazzo d’amore—tergila-gila karena cinta!”
Ya, Tuhan, bagaimana kami tidak mengagumi kasih seperti itu? Kasih yang tidak berhitung, yang berani mengambil risiko demi memenangkan kembali satu jiwa.
Ajarlah kami, ya, Yesus untuk melihat diri kami dan sesama dengan pandangan belas kasih-Mu. Ketika kami merasa tidak layak, ingatkan kami: Engkau bersukacita atas kami lebih dari yang dapat kami bayangkan. Ketika kami melihat orang lain jatuh, jadikan kami pembawa sukacita Surgawi, bukan hakim yang menghakimi,
melainkan saudara yang ikut bersukacita, ketika satu jiwa kembali kepada-Mu.
Dalam Ekaristi, Engkau kembali menemukan kami. Engkau duduk semeja dengan kami, para pendosa yang diundang ke perjamuan kerahiman. Tapi betapa sering kami menerima-Mu tanpa rasa kagum,
melupakan, bahwa Surga turun menyentuh bumi di setiap Komuni Kudus.
Ampunilah kami, Tuhan, karena sering memperlakukan yang Kudus seolah hal biasa. Nyalakan kembali api hormat dan syukur di hati kami, agar setiap kali kami menerima-Mu, jiwa kami terbakar oleh kasih dan kekaguman baru.
“Tuhan, terang dan keselamatan kami. Kami percaya kepada-Mu. Izinkan kami diam di rumah-Mu seumur hidup kami, menikmati keindahan wajah-Mu dan hidup dalam damai-Mu. Semoga hari-hari kami ditandai bukan oleh ketakutan, melainkan oleh sukacita dari orang yang telah ditemukan, sukacita yang mencerminkan hati-Mu sendiri.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

