Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sikapilah kepahitan hidupmu secara positif, niscaya Anda pun akan memperoleh hasilnya.”
(Didaktika Kearifan Hidup)
Memahami Konsep
Istilah ‘disintegrasi positif’, adalah konsep dalam psikologi yang dikembangkan oleh Kazimierz Dabrowski, asal Polandia. Konsep ini bermakna, ketika seseorang mengalami konflik internal berupa sebuah krisis yang memicu mereka untuk mempertanyakan nilai-nilai, tujuan, dan identitas mereka.
Proses ini pun berdampak pada perasaan tidak nyaman, kecemasan, atau bahkan depresi. Tapi dapat juga jadi kesempatan untuk suatu pertumbuhan dan transformasi. Sekalipun lewat proses yang sulit itu dapat jadi kesempatan untuk meraih tingkat kesadaran dan kematangan yang lebih tinggi.
Sebuah Dendam Positif
“Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya untuk Insinyur.” Demikian bentak seorang Insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan pertambangan minyak ‘Aramco’ (Arabian American Oil Company) di Arab Saudi kepada seorang remaja miskin, pegawai rendahan tamatan sekolah dasar.
Remaja ingusan itu merasa haus, maka ia segera mengambil segelas air untuk diminum. Akhirnya remaja itu pun terdiam.
Hardikan yang Mampu Membangunkan Asa Hidup
Ternyata hardikan itu selalu mengiang di kepalanya dan menusuk jauh ke dalam hulu hatinya. Timbullah sejumlah tanya di dalam hatinya, “Mengapa aku alami hal ini? Apakah karena aku anak miskin dan pekerja rendahan? Apakah, jika aku seorang Insinyur dapat meminumnya? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengiang-ngiang dalam dirinya.
Ternyata bentakan itu justru jadi momentum baginya untuk melahirkan sebuah ‘dendam positif’. Dari sana, mengalirlah komitmen dalam dirinya.
Apa yang lalu diperjuangkannya? Di malam hari ia melanjutkan sekolahnya. Kerja kerasnya itu akhirnya membuahkan hasil, ia lulus SMA. Bahkan ia dikirim ke Amerika untuk mengambil kuliah S1 di bidang teknik dan master di bidang geologi.
Ketika kembali ke negerinya, ia sudah bergelar Insinyur. Ia telah mampu menaklukan dendam kesumatnya, dan tentu ia boleh minum segelas air layaknya seorang Insinyur.
Kariernya terus meningkat. Ia diangkat sebagai kepala cabang, manajer umum, sampai akhirnya jadi Wakil Direktur.
Suatu hari, si bule yang dulu sempat menghardiknya, datang kepadanya untuk mengajukan izin liburan ke negeri asalnya. “Aku ingin meminta maaf padamu, karena dulu aku pernah melarangmu untuk meminum segelas air. Semoga Anda tidak membalas dendam padaku.”
Apa jawaban sang Wakil Direktur? “Aku ingin berterima kasih padamu, karena melarang aku minum di saat itu. Ya, dulu aku benci padamu. Tapi setelah izin Allah, kamulah penyebab kesuksesanku.”
Akhirnya sang Wakil Direktur itu kelak jadi Direktur di perusahaan minyak paling bergengsi di dunia itu.
Tahukah Anda, siapakah sejatinya, pribadi yang dikisahkan di dalam kisah ini? Dia adalah ‘Ali bin Ibrahim Al-Naimi, yang kelak jadi Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.
Sungguh, bertolak dari sebuah kepahitan, karena sebuah hinaan. Tapi kepahitan itu berubah sebagai dendam yang positif. Inilah yang disebut ‘disintegrasi postif’.
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Refleksi
- Ziarah hidup seorang anak manusia adalah sebuah misteri.
- Hidup ini bagaikan gerak roda sebuah pedati. Kapan ia bergerak ke atas atau ke bawah, lalu kapan pula is bergerak ke kiri dan ke kanan.
- Di balik semuanya itu, dibutuhkan sebuah sikap batin yang berani untuk memandang, bahwa sebuah kepahitan itu dapat jadi sebagai batu loncatan untuk kesuksesan.
Kediri, 27 Desember 2025

