Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Ember Bocor (EB) adalah ‘kisah pergumulan’ sang pria, berstatus pelayan pemikul air dari India. Dharma namanya.
Setiap hari, ia dengan setia memikul air dari sungai ke rumah tuannya melewati jalan setapak dan lembah yang berkelok. Di bahunya, bergantung dua buah ember, di belakang dan di depannya. Sayang sekali, karena keadaan ember yang di belakangnya itu ternyata bocor.
Sayang, setiap kali tiba di rumah Tuannya, ‘ember yang di belakang’ (eb), selalu merasa malu dan minder karena si ‘ember utuh’ (eu), selalu menghinanya.
Namun, dengan sekuat daya terus ditahannya perasaan malunya itu, meski sering dihina oleh si ember utuh.
Suatu hari, ternyata si (eb) sudah memuncak ketersinggungannya. Maka, si ember bocor pun mengadu kepada Tuannya, si pemikul air.
“Mengapa selama ini, Tuanku membiarkan kualitas kerjaku yang tidak prima. Apakah Tuanku tidak tahu, bahwa aku ini ternyata pecah alias retak? Dampaknya, sehari-hari aku dipermalukan oleh si ember utuh.”
Dengan tenang sang pemikul air menjawab, “Aku tahu, bahwa selama ini keadaanmu memang tidak utuh. Tapi, aku justru bersyukur dengan keadaanmu yang tidak utuh itu.”
“Mengapa demikian Tuan?”
โBegini,โ jawab sang pemikul air itu. “Aku sekali lagi mau bersyukur kepadamu. Karena kamu telah sangat berjasa bagi kehidupan ini. Bukankah justru karena keadaanmu yang tidak utuh itu, kamu telah menghidupi bunga-bunga di sepanjang jalan lewat tetesan air dari ember bocormu?”
“Andaikan keadaanmu itu utuh, maka tak mungkin akan ada taman bunga indah beraneka warna akan bertumbuh di sepanjang jalan ini.”
Sejak saat itu, sang ember bocor pun merasa sangat berbangga, karena berkat jasanya itu, maka meja tuannya juga selalu dihiasi bunga-bunga indah.
Dan, sejak itu, si (eu) sudah tidak berani lagi menghina si (eb).
Saudaraku, ternyata betapa berliku, betapa pelik dan rumit, serta betapa bermasalahnya hidup kita di bumi maya ini.
Inilah saudara, citra kehidupan sang manusia sehari-hari. Banyak persaingan yang tidak sehat. Banyak juga iri serta cemburu yang menghiasi mahkota di kepala kita. Ada juga persaingan terbuka dan ada pula permusuhan terselubung. Jadi, betapa rumit serta njelimetnya, laksana benang dilanda ayam.
Ternyata, banyak saudara di sekeliling kita yang hidup dalam kepahitan hati. Mereka merasa kalah bersaing.
Saudaraku, di balik ketidaksempurnaan itu, justru terselip sebuah nilai, secarik keluhuran, setakhta keagungan.
Kondisi rumit ini, ibarat seorang penyelam hebat yang mampu menemukan ‘sebutir mutiara dari dasar lumpur.’
Jadi, saudara, ternyata juga, betapa dasyatnya sebuah kekurangan, jika kita mampu membalikkannya menjadi segepok permata.
,,,
Kediri, 30 Maret 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

