Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
“Satu menit yang hilang itu harus diganti satu menit juga dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat.”
[Red-Joss.com] Aku disetrum dengan kata-kata di atas. Sudah berapa banyak waktuku terbuang. Waktu yang terbuang sia-sia itu tidak pernah saya ganti dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Waktu kubuang dengan murah, karena saya merasa tanpa kehilangan sama sekali. Tanpa merasa membutuhkannya lagi. Sekali lagi, tidak terpikirkan oleh saya untuk menggantikannya dengan sesuatu yang bermanfaat.
Coba, jika saya bisa menggantikan waktu yang terbuang itu dengan hal yang bermanfaat. Tentu saya memperoleh banyak keuntungan. Sehingga hidup saya mempunyai nilai plus. Lebih terkoneksi dengan kehidupan, dan lebih bertanggung jawab.
Saya yakin, banyak di antara kita yang kesetrum juga dengan kata-kata di atas, khususnya yang suka membuang waktu. Kita rugi besar dengan waktu yang terbuang sia-sia itu. Sehingga struktur cara berpikir kita harus diatur kembali agar semakin efektif, efesien, dan bijak. Sehari itu ada 1440 menit, dan menit demi menit itu mau dimanfaatkan untuk apa…
Sudahkah terpikirkan oleh kita untuk mengatur waktu itu dengan baik? Misalnya, jika ada satu menit yang terbuang, harus diganti satu menit dengan melakukan hal yang bermanfaat. Sedangkan, waktu yang sudah digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat, tidak diganti, tapi ditingkatkan dan dilebarkan manfaatnya. Sehingga sedikit sekali “membuang waktu”. Sebab, cepat sekali waktu berjalan, apalagi jika menghitungnya per menit, benar-benar cepat dan tidak terasa, jika terbuang.
Sekarang, kita tidak melihat waktu ke depan, tapi waktu yang telah terlewatkan. Apa yang sudah kita lakukan? Apakah ada banyak waktu yang terbuang? Jika ya, mari kita berani untuk mengaturnya kembali! Mungkin ada seseorang yang menantikan waktu yang kita miliki itu.
Rm. Petrus Santoso SCJ

