Oleh: Erry Amanda
DIRUPSI – barangkali bagi sebagian ‘masyarakat media sosial virtual’,
masih asing atau baru mendengar istilah ini. Sekali pun ‘ruang yang diobrak abrik’ oleh badai hebat ini nyaris meratakan seluruh peradaban atau perilaku dan tata kehidupan tanpa tersadari.
Badai yang seperti tanpa gemuruh yang mengerikan. Padahal lindasan badai dirupsi itu menggerus tatanan dan menjungkir-balikkan realitas yang sering dikenal dengan istilah atau teori ‘postreality’. Sedang yang terlindas merasa datar-datar saja atau merasa tidak terjadi apa-apa dengan badai tersebut. Seperti media cuci otak yang sangat lembut selembut ‘pisau gama’ yang mengoperasi organ tubuh tanpa nampak sayatannya.
Sederhananya – Dirupsi adalah gulungan badai perubahan yang tidak bertahap. Ia terjadi ‘all it once, non spasia’, tidak berjenjang, mendadak sontak bagaikan erupsi gunung merapi yang meluluh-lantakkan seluruh wilayah kehidupan tanpa jeda.
Dari sosial dan perilakunya, tata moral serta hubungan antar manusia atau bangsa, pendidikan, budaya, moral, perilaku dan seterusnya bagai visual realitas penampakan juga nyaris tak tersadari. Bukan sekadar wajah baru realitas, namun bahkan bisa disebut almarhum realitas atau sopannya pasca realitas (Postreality).
Contoh sederhana:
Pernah terpikirkankah, jika teve, radio, tape recorder, kamera, telepon bisa dikatongi? Kantor sebesar dua kali luas korek api? Komunikasi tatap muka jarak ribuan mil?
Anehnya, nyaris semua pengguna merasa biasa-biasa saja, padahal sejumlah perubahan tersebut menyimpan risiko perusakan yang luar biasa, jika tak hati–hati memelihara hasrat atau bagaimana mempersiapkan moralitas sebagai pengguna semua seluruh bentuk perubahan tersebut. Nyatanya yang terjadi, seluruh lapisan masyarakat– di pucuk gunung pun merasa datar-datar saja menghadapi badai perubahan tersebut mampu mengoperasikan peralatan ‘hypertech’.
Benar, setiap perubahan, bukan sekadar pembaharuan, tak mungkin tanpa melahirkan resisten. Jika kendaraan berkecepatan tinggi – bayangkan hancurnya kendaraan tersebut, jika bertabrakan.
Lantas bagaimana dengan dirupsi –suatu perubahan berkecepatan melebihi percepatan sputnik – semacam perubahan mendahului zamannya, atau perubahan yang terjadi dalam mimpi pun tak terlintas, anggap velositasnya adalah 1000 mil/detik
Sebagai contoh seperti yang sudah dilarik di atas, yakni tentang dunia komunikasi digital yang menghapus telepon kabel – yang nyaris tidak terpikirkan dengan sangat cepat menjadi telepon canggih (smartphone) suatu alat audio lengkap, musikal, visual, komunikasi tatap muka jarak ribuan mil dengan percepatan nir ukur.
Luar biasanya – semua masyarakat dunia yang menggunakan peralatan tersebut tak merasa, tak gagap menggunakan alat teknologi Supra logic tersebut. Gegap sampingan paling hanya soal keluhan resistensi teknologi yang menuding adanya perusakan hebat yang lahir dari dunia teknologi. Tudingan tersebut tanpa memberikan tekanan
terhadap pengguna hasil teknologi.
Apa pun alatnya, semua itu tergantung ‘the man behind the gun’. Baik buruknya tergantung moralitas dan kecerdasan penggunanya.
Kecemasan makin mewabahnya badai borok moral dan menyampahnya tata integritas moral sosial tidak sepenuhnya bermuara pada bentuk perubahan pada dimensi apa pun, namun lebih kepada bagaimana menyikapi suatu perubahan.
Dengan lahirnya teknologi di bidang medis, sebuah misal. Media iklan virtual tumpah ruah iklan obat dengan berbagai jenis, Tak hati-hati memaknai luapan informasi system pengobatan (apa pun jenisnya) perubahan di dunia layanan virtual ini akan melahirkan sesal panjang, jika pengetahuan produk yang ditawarkan tak memadai. Termasuk toko serba ada virtual (online).
Di dunia medis, sekarang seseorang sangat mudah mendapatkan perlatan untuk mengukur tekanan darah tinggi, saturasi darah, mengukur tinggi-rendahnya tekanan darah, dan lain-lain, sebut saja rekam medis elektronik – teknologi di dunia medis sudah sangat tinggi. Bahkan tak akan lama lagi akan lahir barcode lequid yang ditanamkan dalam tubuh kita yang bukan hanya menyimpan ID seseorang. Tapi juga rekam medis yang bisa diakses sendiri setiap saat, yang sementara ini masih bersifat plasma.
Sebentar lagi akan ada dokter dan sistem pengobatan jarak jauh (online) yang pasien bisa mengirimkan data (rekam medis) yang diakses dari tubuh pasien itu sendiri.
Apa Dunia Kedokteran akan mati?
Tentu tidak. Anggap saja kecerdasan mesin di dunia medis adalah asisten dokter.
Satu hal yang perlu disadari, bahwa:
Kecerdasan Butuh Moral, Ilmu Pengetahun Butuh Moral
Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab serta mempersiapkan moralitas sosial dan perilaku normatif dalam menghadapi sejumlah perubahan yang terjadi?
Teknologi atau pengguna teknologi.
Jawabanya adalah kesadaran diri sendiri. Selain itu, sidang pembaca juga cukup yang cerdas untuk menjawabnya.
- Bandung Cibiru Asri

