“Jangan menilai orang dari tampilan luar agar kita tidak dipermalukan oleh realita.” -Mas Redjo
…
Untuk kedua kali ini saya melihat tetangga rumah, Pak AA memesan nasi goreng memakai nasi sendiri. Istilahnya, nitip menggoreng supaya harga jadi murah?
Kasak-kusuk tetangga beberapa hari lalu itu mendenging di telinga saya lagi.
Saya segera membuang anggapan dan prasangka buruk itu. Lebih baik saya tidak komentar, tapi diam. Pak AA meminta tolong ke Mas Nasgor itu tidak ada urusan dengan saya atau mereka.
Saya berpikir sederhana, apalagi sebagai warga baru di komplek itu. Jika Pak AA dan Mas Nasgor itu sepakat, berarti tidak ada yang dirugikan. Mengapa orang beranggapan, Pak AA itu pelit?
Bisa jadi Pak AA minta tolong Mas Nasgor, karena istrinya malas memasak. Anak-anak mereka pulang bekerja larut malam, dan jarang makan di rumah.
Saya dan istri juga membiasakan pada anak-anak, jika membeli makanan itu sesuai kebutuhan dan secukupnya. Ketimbang sisa makanan itu ditimbun di kulkas dan mubazir. Bukankah membuang makanan itu identik dengan kita merebut rezeki orang miskin?
Suatu malam saya membeli nasgor di taman, karena Mas pedagang itu belum keliling. Saya melihat Pak AA menenteng tas kresek, melewati kami.
“Ke mana, Pak?” tanya Mas Nasgor dan saya hampir berbarengan.
“Biasa,” sahut Pak AA pendek. Ia senyum dan membalas sapaan saya.
Dari Mas Nasgor, saya memperoleh penjelasan, Pak AA menenteng tas kresek itu berisi makanan untuk diberikan ke Satpam, atau warga di pinggiran komplek. Terkadang Pak AA minta digorengkan nasi itu juga untuk dibagikan. Sekalian jalan-jalan sehat sambil melihat suasana. Tentunya, jika hari tidak hujan.
Saya mengiyakan, dan mahfum. Disadari atau tidak, kita sering kali menilai orang itu dari tampilan luar, ingin tahu urusan orang lain, nyinyir melihat orang lain sukses, dan seterusnya. Akibatnya, kita gaduh dan dipusingi oleh pikiran sendiri. Hidup pun jadi tidak tenang, dan tiada kedamaian.
Saya menarik nafas panjang agar dada ini lega. Untuk senantiasa berpikir jernih, sejernih kasih Ilahi, dan damai di hati.
…
Mas Redjo

