Oleh : Mas Redjo
“Menikah itu sekali untuk selama-lamanya, karena Allah membenci perceraian.”
[Red-Joss.com] Setia, kita setia pada pasangan itu tidak sekadar pilihan, tapi komitmen dan keputusan bersama yang diikrarkan untuk tidak dilanggar dan dikhianati hingga ke ujung kematian.
Bersikap setia itu harus dihidupi dan diwujudnyatakan dalam hidup keseharian, karena Allah setia.
Coba direnungkan kembali, ketika kita sepakat untuk diikat ke dalam janji pernikahan suci.
Kita sadar sesadarnya, dengan hati ikhlas menerima pasangan kita, baik kelebihan dan kekurangannya. Kita berjanji untuk saling memiliki dan menjaga, baik dalam keadaan senang maupun susah, sehat maupun sakit.
Janji pernikahan suci yang harus dihidupi untuk saling menghasihi dan menghargai pasangan sampai maut memisahkan kita.
Sungguh naif, egois, dan tidak bertanggung jawab. Jika dalam keluarga ada perselisihan atau masalah lalu dibesar-besarkan dan dibiarkan berlarut-larut. Sehingga hidup ini bagai dalam neraka.
Mengapa ketika pacaran kita mudah mengalah dan panjang sabar? Berkamuflase sekadar mencuri simpati?
Teliti sebelum membeli. Kenali lebih mendalam agar kita tidak kecewa, terlukai, dan sakit hati.
Stop! Semua itu tidak perlu disesali. Nasi telah jadi bubur. Yang utama dan penting adalah sikap sadar diri, saling memaafkan, mengampuni, dan mengasihi.
Sesungguhnya, pasangan hidup itu tidak ada yang sempurna. Tapi jadi sempurna, ketika kita saling mengisi dan melengkapi. Rumah tangga yang didasari kasih untuk saling membahagiakan.
Jodoh itu anugerah dan ketetapan Allah yang harus disyukuri dan dinikmati agar kita sukses membina rumah tangga yang harmonis dan bahagia.
Resep membina keluarga bahagia itu juga sederhana. Modalnya adalah kita tidak mengecewakan Kristus (Yoh 15: 16):
“Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah …”
Kita dipilih untuk setia, sumber hidup bahagia.
Mas Redjo

