“Dipilih untuk dimurnikan, lalu kita diutus-Nya.” -Mas Redjo
…
Siap atau tidak siap, kita harus semangat, ketika diutus Tuhan. Jawaban kita adalah: ya dan melakukan-Nya.
Ketika kita menolak permintaan orangtua, mereka jadi kecewa dan sedih. Terlebih lagi, jika kita menolak perintah Tuhan.
Kita dibaptis, berarti dipilih Tuhan dan siap diutus-Nya. Itulah komitmen dan konsekuensi kita yang percaya dan mengimani-Nya.
Tidak sekadar merasakan, saya juga melihat bukti pada mereka yang melakukan dengan agenda tersembunyi, dan pamrih.
Sewaktu aktif dalam kegiatan sosial Gereja, dan menjalaninya setengah hati, saya merasa berbeban berat, sulit melangkah, dan bahkan cepat bosan. Apalagi bagi mereka yang berhitung dagang didasari untung dan rugi. Apakah hati mereka damai dan bahagia?
Saya bersyukur, pengalaman iman dijamah Tuhan menyadarkan dari mimpi buruk untuk merefleksikan motivasi saya agar dimurnikan-Nya.
Ternyata, tujuan saya aktif dalam kegiatan sosial itu setengah hati agar dibilang aktivis. Saya juga ingin menjalin relasi bisnis dengan mereka yang seiman. Tujuannya agar sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, dan bisnis jadi lancar. Faktanya, usaha saya stagnan; mandeg.
Ajaibnya, ketika saya melakukan karya sosial itu dengan sukacita dan ikhlas, hati ini serasa tiada beban dan damai. Bahkan secara perlahan, tapi pasti usaha saya mulai membaik dan mapan.
Peristiwa iman itu meneguhkan jiwa saya untuk selalu menghadirkan kasih Tuhan dalam pelayanan. Sekaligus untuk menomorsatukan Tuhan, seperti yang tersirat dalam perintah-Nya yang pertama:
“Akulah Tuhan, Allahmu. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.”
Dengan membangun intimasi kasih lewat sesama itu, saya memperoleh harta sejati dari Tuhan. Kekayaan materi itu mudah hilang dan lenyap, tapi hubungan sejati dengan-Nya itu bersifat kekal
…
Mas Redjo

