“Allah memandang hati, bukan penampilan. Kesetiaan berarti mengasihi Allah dan melayani sesama dengan ketekunan dan belas kasih.”
Sabda Allah mengajak kami untuk kembali menemukan makna sejati dari kesetiaan.
Dalam Injil, murid-murid Yesus merasa lapar. Saat berjalan di ladang, mereka memetik bulir gandum untuk dimakan. Tindakan yang sederhana dan sangat manusiawi. Tapi orang-orang Farisi memprotes. Sebab hari itu adalah hari Sabat, dan menurut mereka, aturan suci telah dilanggar.
Mereka sungguh ingin menjaga Hukum Taurat. Tapi tanpa sadar, dalam upaya melindungi hukum, hati hukumnya justru terkubur. Perintah yang seharusnya memberi hidup, berubah jadi beban yang menutup mata terhadap kebutuhan sesama. Aturan jadi lebih penting daripada manusia.
Putra-Mu mengingatkan mereka akan Daud, hamba pilihan-Mu, yang memakan roti sajian, ketika ia dan orang-orangnya kelaparan. Melalui itu, Yesus menyingkapkan kebenaran yang lebih dalam: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama lebih utama daripada penerapan aturan yang kaku.
Lalu Ia mengucapkan kata-kata yang mengguncang segalanya: “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dan dengan tegas Ia menambahkan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Dengan perkataan ini, Yesus menyatakan siapa diri-Nya. Ia bukan sekadar penafsir hukum— Ia adalah Tuhan atas hukum itu sendiri. Mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti hidup kami tidak bisa tetap sama.
Bapa, di sinilah iman jadi nyata. Jika Yesus adalah Tuhan, maka ego
kami tidak bisa lagi berkuasa. Kenyamanan tidak bisa lagi menjadi pusat segalanya. Kebiasaan, pendapat, budaya, bahkan rutinitas keagamaan tidak boleh menggantikan Dia.
Dalam bacaan pertama, Engkau memilih Daud— bukan yang paling kuat, bukan yang paling mengesankan, melainkan yang hatinya terbuka bagi-Mu. Engkau mengingatkan kami, bahwa Engkau tidak melihat seperti manusia melihat; Engkau memandang hati.
Dalam Mazmur, Engkau meneguhkan, bahwa Engkau setia kepada orang yang Kau pilih, menguatkannya dan berjalan bersamanya.
Ajarlah kami, Bapa, bahwa kesetiaan sejati bukan soal penampilan yang sempurna, melainkan hati yang tetap berpaut kepada-Mu dan peka terhadap sesama. Hati yang mau melayani,
mau mengasihi, dan mendahulukan belas kasih daripada penghakiman.
Ajarlah kami ketekunan dalam melayani-Mu, agar kami setia bukan hanya kepada-Mu, tetapi juga satu sama lain— dalam keluarga, komunitas, dan tanggung jawab harian kami.
Tolonglah kami untuk memuliakan-Mu. Bukan hanya dengan menaati aturan, melainkan dengan hidup yang dibentuk oleh kasih.
Semoga ibadah kami melahirkan kepedulian, ketaatan kami melahirkan kerendahan hati, dan iman kami mewujud dalam pelayanan yang setia.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

