Dalam suatu serasehan seksi tanya jawab di padepokan Guru Bijak.
“Guru, apa yang harus dilakukan, jika kebijakan kita selalu dikritisi orang lain?”
“Bagaimana menurut kalian?”
Di sana sini lalu muncul jawaban dari para cantrik. Mereka beradu argumentasi.
Guru Bijak diam, tersenyum, dan tidak berkomentar.
Tidak disangkal, kecenderungan orang yang dikritisi itu umumnya reaktif dan ingin membela diri. Ada yang merasa hebat dan benar sendiri. Ada yang merasa dihakimi, terpukul, stres, dan ada pula yang putus asa.
Hidup ini kita yang menjalani dan orang lain yang mengkomentari.
Ketika selalu menanggapi nyinyiran orang lain, kita jadi kemrungsung uring-uringan, dan pusing sendiri. Stres.
Kita juga tidak harus menyanggah dan membela diri. Karena suasana makin keruh, panas, membuang-buang waktu, dan energi.
Alangkah bijak, jika komentar, nyinyiran, kritikan, bahkan hasutan itu kita sikapi dengan rendah hati sebagai refleksi diri.
Bahwa kita harus bekerja keras dan lebih baik lagi. Kita tidak harus membuktikan diri, tapi memberikan diri, melayani dengan tulus hati.
Sesungguhnya cara terbaik untuk menanggapi nyinyiran dan kritikan itu dengan kerendahan hati.
“Allah menentang orang-orang yang sombong, tapi mengaruniakan kasih karunia kepada orang yang rendah hati ” (Yakobus 4:6).
Berbahagialah kita, jika karena Anak Manusia, orang membenci kita, dan jika mereka mengucilkan kita, mencela dan menolak kita sebagai sesuatu yang jahat (Luk 6: 22).
Berani dikritisi agar ego kita terkikis. Kita jadi sadar diri dan rendah hati, karena sesungguhnya kita adalah saluran berkat Allah.
Mas Redjo

