“Diingatkan dan ditegur orang itu sakit. Diingatkan hati nurani itu anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
Peka dan peduli pada sesama adalah semangat kasih yang harus dihidupi agar kita makin disayangi dan dikasihi Tuhan.
Saya mencoba menerapkan hal itu agar anggota keluarga peka dan peduli pada sesama. Karena sejatinya, dalam rezeki kita itu ada rezeki orang lain yang dititipkan Tuhan agar kita berbagi dan murah hati.
Saya mencoba mengingatkan istri dan anak untuk tidak membuang makanan (barang). Lebih bijak, jika mempunyai berlebih agar diberikan dan bermanfaat bagi orang lain.
Misalnya, ketika makan di restoran agar pesan makanan secukupnya. Supaya makanan itu tidak bersisa dan mubazir. Jika bersisa agar dihabiskan oleh si pemesan sendiri.
Bisa juga, si pemesan diminta mengganti senilai makanan itu untuk diberikan pada orang yang lain. Tujuannya untuk mendidik anak supaya menghargai rezeki, dan tidak menyia-nyiakannya.
Saya juga tidak mau memberikan makanan sisa itu pada orang lain. Alasan saya sederhana, karena kita juga ingin diberi yang terbaik.
Ketimbang diingatkan dan ditegur orang lain, lebih baik kita belajar untuk mengingatkan diri sendiri.
Ketika diingatkan dan ditegur orang lain itu berarti kita sudah kelewatan, melampaui batas, dan keterlaluan. Kita juga malu hati.
Berbeda hasilnya, jika kita belajar untuk mengingatkan diri sendiri. Caranya adalah dengan terus menerus kita berefleksi diri agar yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat itu seia-sekata. Sekaligus menceminkan perubahan hidup kita ke arah yang makin baik dan benar. Karena ‘urip kuwi urup’.
Sejatinya, hidup ini adalah ungkapan kesaksian kita sebagai orang yang beriman. Hidup berkenan bagi Tuhan.
Mas Redjo

