Oleh : Jlitheng
[Red-Joss.com] Target kepemimpinan dalan Gereja yakni terbangunnya sebuah ‘engagement’ atau keterhubungan internal, antar umat dengan umat, antar perangkat yang ada dan eksternal dengan komunitas sekitar.
‘Engagement’ adalah suatu hubungan timbal balik yang pada akhirnya menimbulkan komitmen, kesetiaan dan kepedulian.
Jika keterhubungan tidak terjadi, maka kepemimpinan itu tidak berkualitas alias GARING (GAgah tetapi RINGkih) dan menghasilkan Gereja Muda yg GARING (GAbuk dan RINGkih). Ibarat padi akan mudah roboh bahkan oleh tiupan angin sepoi.
Tulisan ini bukan tentang konsep ‘leadership’, tetapi catatan pribadi tentang kualitas ‘engagement’ yang lahir selama lebih 30 tahun ‘praxis’ kepemimpinan para Imam CICM di persada Sanberna . Saya merasakan ada beda warna ‘engagement’ sebagai buah dari dua macam gaya kepemimpinan: (1) ‘Down to Earth’ dibanding (2) ‘Top Down’.
[1] Kepemimpinan ‘Down to Earth’ terlaksana di zaman Nir Hape apalagi WhatsApp. Semua urusan harus temu darat. Contoh: Romo Ludo, suatu malam, ke rumah kami (lama), yang berada di sebelah empang, ‘to ensure’, bahwa saya bersedia jadi kaling perdana Antonius 4 (pemekaran). Rm Gilbert (malam) menghadiri pelatihan pamong sabda di wilayah Peruri. Romo Josh Kobbe, duduk dengan empati di belakang, ketika diadakan persiapan Komuni Pertama di BSS. Sebagai umat saya merasa senang, karena dicari, disapa, dibutuhkan, dan merasa ‘diuwongke’, lebih sebagai seorang pribadi, dibandingkan karena tugas.
Praxis Kepeminpinan ‘down to earth’ seperti ini terasa efektif dalam membangun ‘engagement’ antara imam dan umat dalam pelayanan. Kata ‘engagement’ dalam praxis seperti begini terasa “yes, oke, siap, sendiko, sepakat.”
[2] Kepemimpinan ‘Top Down’. Pada tahun 2016, ketika sedang disosialisasikan Ardas KAJ, semua anggota dewan (pleno) dipanggil untuk membangun ‘engagement’, bahwa program KAJ akan terlaksana. Praxis seperti ini bukan ‘down to earth’, tetapi formal layaknya organisasi atau perusahaan. Karena era digital, warna komunikasi adalah teknologi. Relasi tergantikan teknologi dan makin miskin empati dan rasa hati.
Pendekatan ‘top down’ harus berlanjut ke ‘down to earth’, agar tidak GARING ketok (GAgah tapi RINGkih) dan melahirkan Generasi Muda GARING (GAbuk dan RINGkih) bak padi mudah roboh bahkan oleh tiupan angin sepoi-sepoi.
Tetap satu dalam keekaan Tubuh Kristus.
Jlitheng

