Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kedurhakaan akan melahirkan kutukan serta kenestapaan.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini saya turunkan sebagai sebuah refleksi bagi kita, dalam rangka puncak peringatan, “Hari Lanjut Usia Nasional” (HLUN), 2023.
Saya sungguh terharu dan terinspirasi, ketika digerakkan oleh sebuah tulisan di harian Kompas, Selasa, 6/6/2023, pada puncak peringatan HLUN 2023, berjudul, “Pelajaran dari Kisah Malin Kundang. (SKL) wartawan Kompas.
Sinopsis kisah. Si Malin Kundang dididik dengan baik oleh orangtuanya. Saat dewasa, ia meminta izin untuk merantau, ke luar dari negerinya, Minangkabau, Sumatra Barat.
Di perantauan, dia bernasib baik. Setelah menikah, dia pun tergerak hati, karena rindu akan kampung halaman. Setiba di kampung, dia didatangi seorang perempuan tua renta yang mengaku sebagai Ibunya.
Malin Kundang tidak percaya. Dengan malu dan marah, diusirnya Ibu tua itu.
Sang Ibu merasa sedih dan sungguh kecewa diperlakuan kasar dan kurang ajar itu. Maka, dikutuknya agar sang anak menjadi batu. Kutukan itu pun menjadi kenyataan. Dia pun menjadi sebuah batu dalam posisi bersujud dan ditemani puing-puing kapalnya yang hancur berantakan.
Saat ini, kini, jika Anda ke kota Padang, Batu Malin Kundang berada di kawasan wisata Pantai Air Manis, kota Padang.
Manusia, ternyata dapat menjadi sebuah batu bersujud. Betapa dahsyat dan mengerikan kutukan seorang Ibu.
Kepada kita, generasi muda, dan anak bangsa besar ini, agar mencermati betapa dahsyat dan saktinya mulut sang Ibu itu.
Kita, lewat peringatan puncak hari lansia ini, diajak untuk sungguh berefleksi, bahwa gerbang surga, tidak sekadar berada di bawah telapak kaki sang Bunda, namun juga, panas Neraka pun bertengger di mulut ajaibnya. Jadi, ternyata, betapa dahsyatnya kuasa ajaib sang Bunda itu.
Semoga, kini, tidak ada lagi kisah serupa. Sirnalah fenomena si Malin Kundang baru. Karena, kisah ini, sungguh telah menyayat nurani tulus kita. Si pendurhaka akan menerima warisan kutukan kekal.
Rawatlah Ibu dan hindari kebiasaan memisahkan Ibu dari lingkungan keluarga. Panti jompo, tidak selalu menjadi istana nyaman. Di sana, dia akan merana serta kesepian.
Berhati-hati dan waspada, jika penyakit jasmani itu dapat berjangkit, maka besar kemungkinan, penyakit rohani pun akan mengikuti jejak langkahnya. Karena, bukankah sang manusia itu merupakan satu kesatuan utuh total? Jiwa dan badan, bukanlah dualisme.
…
Kediri,ย 8ย Juniย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

