Oleh : Jliheng
| Red-Joss.com | Om, sebelum saya menjalani layanan saya sebagai dewan, justru saya dibayang-bayangi oleh perasaan seperti ini: bagaimana kalau keputusan yang saya ambil itu justru tidak adil, cara memecahkan masalah tidak memuaskan, kata-kata dan perbuatan saya kurang selaras, hidup saya kurang menginspirasi dan membuat sebagian umat kurang respek. Bagaimana kalau pelayanan saya kurang sempurna dan banyak kekurangan?
Nak, rasa โgojag-gajeg seperti itu lumrah dan dialami oleh siapa pun dalam pelayanan. Itu tanda, bahwa hatimu tulus. Ingin yang terbaik untuk umat. Yang utama, semua harus dilandasi dengan niat hati yang tulus. Maka, selain D.P.H dan A.P.I, kita masih membutuhkan โKโ, sehingga akan jadi D.P.H – A.P.I.K. Tanpa โK takkan mungkin pelayananmu apik atau sempurna. โKโ itu adalah ketulusan hati.
K. Ketulusan. Kalau ingin sungguh melayani, kamu harus berjiwa hamba Tuhan artinya motifmu harus tulus dan suci. Pelayanan yang tulus sandarannya bukan kekuatanmu sendiri, tapi kedekatanmu dengan Allah lewat doa harianmu dan kedekatanmu dengan umat lewat tegur sapa dari hati ke hati. Maka sebaiknya kamu tidak โbluffingโ alias omong gede dan mudah umbar janji, tapi โmak plecus jebule ora pecusโ. Sehebat apa pun dirimu, takkan mungkin baik tanpa Allah dan umat. Kau akan mendapatkan dayanya, jika tulus hati dan โprasajaโ. Jika sudah kau jalani, maka apa pun hasil dari layananmu akan tetap menyenangkan hati Tuhan dan umat. Tak ada kebahagiaan lebih baik dari membuat orang lain bahagia. Samudra cinta seluas apa pun takkan pernah utuh tanpa setetes cinta sucimu! Ingatlah itu nak!
Tuhanpun akan selalu ulurkan tangan-Nya untuk menolong, dan segala karya pelayananmu yang tidak sempurna akan digenapi oleh-Nya. (Mat 11:28).
Jadi, kalau ada dewan yang merasa hebat tanpa Kristus, sosoknya saja hamba, tapi jiwanya pejabat.
Nak, saya pernah dalam posisi semua itu. Pernah jadi Kaling, pernah juga jadi Seksi, pernah Dewan dan pernah juga Ketua. Kujalani semua dengan ketulusan hati. Dengan kesadaran, bahwa tak akan semua berakhir sempurna. Selalu ada kekurangan, walaupun sudah kujalani dengan semua cara. Anakku, bukannya Kristus tak ingin aku sempurna, tapi dengan kekurangan itu Dia ingin saya sadar, bahwa saya dicintai bukan karena sempurna, tapi, karena tulus dan setia. Maka tak satu pun yang membuatku cemas.
Ketika semuanya harus berakhir, dan sudah tiba waktunya meninggalkan tugas itu, saya bisa pergi dengan lega hati sambil berdendang: “Hanya ini Tuhan persembahankuโฆ” Karena aku sudah mendengarkan suara Tuhan dan berjalan bersama dengan umat-Nya yang saya layani.
Langkahkan kakimu dengan integritas.
Jlitheng

