“Tidak selamanya diam itu emas. Ada kalanya diam itu bom waktu yang siap diledakkan.” -Mas Redjo
Jujur, saya paling berhati-hati dan waspada terhadap pribadi yang pendiam. Saya takut menyinggung perasaan dan melukainya. Saya takut, jika diterkam dan dicabik-cabiknya.
Berbeda halnya, jika berhubungan dengan orang yang ceplas ceplos, terbuka, dan jujur. Saya cepat akrab dan nyaman. Pada pribadi ramah itu seperti tidak ada persoalan yang disembunyikan atau ditutupinya.
Dengan pribadi ceplas ceplos dan terbuka, jika ada perselisihan atau konflik itu juga mudah dirunut akar masalahnya dan diselesaikan dengan damai. Sehingga hubungan itu cepat membaik kembali.
Sebaliknya berhubungan dengan pribadi yang pendiam itu. Saya dituntut berhati-hati untuk menjaga mulut ini dengan benar agar tidak salah bicara, dan melukai perasaannya.
Dengan orang yang pendiam, jika berbincang saya membiasakan diri menggunakan 3 kata sakti, yakni tolong, maaf, dan tertima kasih. Tujuannya untuk menghindari kesalahpahaman, tapi memberi apresiasi.
Jika ada konflik atau didiamkan teman, saya tidak menunda waktu lama dan membiarkan konflik itu berlarut-larut jadi bom waktu yang meluluh-lantakkan persahabatan. Tapi saya segera menemuinya untuk menyelesaikan dengan baik.
Bagi saya pribadi, didiamkan atau dimusuhi orang itu tiada damai di hati ini. Bahkan jadi beban jiwa yang menghimpit, menyiksa, dan membuat hidup ini jadi menderita.
Berani mengalah dan memaafkan orang lain adalah cara cespleng yang biasa saya lakukan untuk mengendalikan keegoan ini. Supaya saya berjiwa besar dan rendah hati.
Berdamai dengan diri sendiri lebih dulu adalah jalan pertobatan untuk jadi manusia baru.
Dengan menyangkal diri dan memanggul salib, kita mengikuti Tuhan Yesus. Hidup berkenan bagi kemuliaan-Nya.
Mas Redjo

