oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Telitilah segala sesuatu dengan sungguh cermat, pahamilah dia secara mendalam, dan renungkanlah dia hingga ke dasar nurani sebelum kau mecampakkannya ke balik punggungmu.”
(Amanat Kearifan Hidup)
…
Sang arifin telah menyodorkan sepotong kearifan hidup lewat adagium, “Sungguh, menyesal kemudian itu tidak ada gunanya.” Ibaratnya “Nasi telah jadi bubur.” Hum, sayang, sungguh disayangkan!
Kisah Inspiratif
Seorang Ibu tua tampak dengan bersemangat dan cermat saat dia menampi butir-butir kacang hijau segar.
Tampak betapa cermat mata dan jemarinya, memisahkan antara butir-butir yang bernas serta butir yang keropos. Butir-butir yang bernas dibiarkan di atas tampi, sedangkan yang keropos segera dibuang ke teras pendopo rumahnya.
Setelah berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, betapa terperanjat ia, karena ternyata di samping teras rumahnya telah tumbuh sangat subur beberapa rumpun pohon kacang hijau.
Ibu tua itu duduk sambil cermat memandangi, memikirkan, dan merenungkan keberadaan beberapa rumpun kacang hijau itu.
Detak jantung di dadanya berdegup lebih kencang, karena ia merasa dan menyesali tindakan gegabahnya beberapa waktu yang lalu.
Kini sambil termenung dalam, ia mencoba menyentuh getaran denyutan dadanya sambil berucap, “Gusti Allah, aku telah bersalah terhadap-Mu, karena aku telah gegabah dengan membuang dan mencampakkan bibit-bibit hidup pemberian-Mu ke tempat sampah.
(Dari Aneka Sumber)
Sesuatu yang Terbuang tak Selamanya akan Menyampah
Kini, sadarlah dia ternyata tidak semua yang terbuang dan tercampakkan adalah sesuatu yang sudah tak berguna. Karena dapat saja, manusia telah melakukan kekeliruan dalam memilah dan menilai sesuatu dalam dinamika hidupnya.
Kisah si Ember Bocor
Saya teringat akan kisah ‘sebuah ember bocor,’ tentang sang pemukul air yang selalu mengeluh dan menyesali dirinya, karena dia sering memikul ember air yang tersisa. Karena hampir setengah dari isi ember itu terbuang ke tanah.
Namun, betapa terperanjatnya ia, saat kepadanya dijelaskan oleh mandornya, bahwa justru karena tetesan air yang terbuang dari embernya dari hari ke hari, maka tumbuhlah bunga-bunga cantik di sepanjang jalan yang dilewatinya itu.
Stephie Kleden Beetz
(Cerita Kecil Saja)
Itulah Hidup
Hidup dan kehidupan ini bukanlah sebuah kebetulan. Bukankah kehidupan itu adalah sebuah rahmat dan karunia agung dari Sang Pemberi hidup?
Gratia Dei yang merupakan sebagai providentia Dei, telah jadi berkat dan rahmat dalam hidup kita.
Hidup adalah Berkat
Maka, totalitas dinamika hidup manusia merupakan rahmat yang tercurah dan mengalir deras bagai air. Itulah berkat dalam hidup kita.
Lewat spirit terselubung dari amanat tulisan ini, kita diajak agar hidup dengan cermat, selektif, dan reflektif agar kita tidak salah dalam menyikapi permasalahan hidup ini. Hindari kebiasaan untuk bersikap gegabah dalam memilih dan memilah sesuatu; karena sesal kemudian, memang sungguh tidak berguna.
Amanat hidup yang perlu kita rangkul di dalam hidup ini ialah agar kita mampu menghargai suatu keberadaan, apa pun itu.
Disintegrasi positif!
(oh salah dan dosa yang mendatangkan rahmat serta kebahagiaan!)
…
Kediri, 7 Desember 2024

