Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuhanku, sudilah menguatkan serta meneguhkan lengan ketulusanku, agar aku mampu menggendong saudaraku!”
(Inspirasi Moral Hidup)
…
| Red-Joss.com | Dunia dan isinya, hidup serta berada di dalam relungan lingkaran ruang serta waktu. Itulah yang dinamakan kronologi.
Fakta kisah pahit pedih, berdasarkan historis masa silam, ternyata, tidak selalu serta merta melumpuhkan kehendak tulus seorang anak manusia untuk berlari meninggalkan sesama yang menderita sebagai dampak dari korban perang dasyat. Namun, justru, sering kali juga, mampu menampilkan sebuah kekuatan yang melampaui nalar sehat kita.
Sepenggal kisah sejarah berikut ini, telah membuktikannya.
Siapa yang tidak teringat akan peristiwa kehancuran serta luluh lantak kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang?
Perisitiwa itu pun telah meninggalkan luka-luka batin dan trauma mendalam yang tersimpan rapi di dalam hati sang manusia. Tragedi kehancuran ini, sungguh menyejarah.
Refleksi inspirasi moral ini, mau menunjukkan kekokohan serta ketulusan hati seorang bocah Jepang, yang setia memikul jenazah saudaranya untuk dikremasi.
Tahun 1945, tak lama setelah sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang beredar selembar foto yang sangat mengiris dada batin kita. Foto itu memperlihatkan seorang remaja Jepang, memikul jenazah saudaranya, sambil setia mengantre, menunggu giliran akan dikremasi.
Seorang tentara berkata kepadanya, “Lepaskan saja jenazah itu, agar tidak menghalangimu!”
Sahut sang bocah, “Dia tidak berat, dia saudaraku!” Seketika itu, meledaklah tangis tentara itu. Sejak itu, foto serta ucapan sang bocah itu, menjadi sangat fenomenal dan dikenang hingga saat ini.
Ternyata, foto yang sangat interisan ini, dijepret oleh fotografer, US Marine, Joe O’ Donel.
“Dia tidak berat, dia saudaraku!” Inilah pernyataan yang sungguh bermakna serta menggugah nurani kita. Sungguh dasyat makna dari ucapan agung ini.
Masih adakah hari-hari ini, “mulut-mulut sang manusia, yang dengan tulus serta jujur” mengucapkan dan melakukan perbuatan semulia ini? Masih adakah? Atau telah sirna ditelan waktu?
Marilah kita merefleksikan dan melaksanakan amanat agung dari pesan moral ini!
Ini pun, amanat dari Tuhan untuk kita, lewat ajaran kasih. “Kamulah saudaraku, jika kamu melakukan apa yang Kukehendaki.”
Mengangkat yang jatuh, membopong yang lumpuh, dan menyembunyikan aib sesama, sudah seharusnya menjadi santapan harian kita.
…
Kediri,ย 28ย Agustusย 2023

