Dia selalu ada: Di depanku, belakang, samping kanan-kiriku, hati dan di tahta kemuliaan-Nya. Setiap saat, waktu, dan setiap hari aku bersama dengan Dia.
Dia di depanku sebagai ‘guide’; di belakang untuk menyemangatiku; di samping kanan untuk menuntun aku saat melakukan kebaikan; di samping kiri untuk mengingatkan saat aku melakukan dosa; di dalam hati sebagai sahabat dekat dalam doa, pujian, dan penyembahan.
Dia di tahta kemuliaan-Nya agar aku bersimpuh taat, hormat, dan memuliakan-Nya.
Dia selalu ada!
St. Agustinus menegaskan, “Jika jauh dari Dia, kami jatuh. Kembali kepada-Nya, kami bisa berdiri. Jika tinggal bersama-Nya, kami jadi tenang.”
Sekarang, tinggal dipilih yang mana? Tapi harus diingat, jangan pernah menyangkal dan mengkhianati Dia. Cukup Yudas Iskariot dan Petrus yang pernah melakukannya. Jika kita ikut-ikutan, berarti kita berkhianat dan menyangkal-Nya. Kita mengulang kisah yang menyedihkan itu: kita menyalibkan-Nya lagi, karena ketidak-setiaan kita.
Mengapa banyak di antara kita yang tidak berkomitmen dan setia jadi pengikut-Nya? Padahal Dia selalu ada bersama kita, sempurna, dan Dia setia.
Kesempurnaan itu ada di dalam Dia, bukan dalam diri kita. Hendaknya kita senantiasa berdoa, memuji, dan menyembah sujud kepada-Nya. Hal ini sebagai bukti kesetiaan kita setiap hari yang paling nyata.
Rm. Petrus Santoso SCJ

