Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | “Betapa pahitnya, hati sang manusia, jika dia merasa disingkirkan dari pergaulan hidup ini!”
“Betapa terperanjatnya sang manusia yang merasa ditolak di dalam pergaulan hidupnya, saat dia merasa diterima seseorang!”
Saudaraku, di dalam hidup ini, kita pun mungkin sering juga mengalami kepahitan, saat merasa ditolak dan disingkirkan dari pergaulan hidup. Betapa secara nurani, kita merasa terlempar sangat jauh dari sesama. Hal ini terjadi, mungkin karena kesalahan kita atau pun karena suatu sebab yang lain.
Refleksi kita hari ini, difokuskan kepada peristiwa ‘kepahitan hidup seorang wanita Samaria’ yang sadar, bahwa dirinya tidak disukai.
Saat itu, Yesus tiba di kota Sikhar, Samaria. Wilayah itu, dulu diberikan oleh Yakub kepada Yusuf putranya. Di situ terkenal dengan sebuah sumur yang disebut sumur Yakub.
Saat Yesus tiba di situ, hari, sekitar pukul dua belas siang. Yesus pun merasa letih, maka Dia pun duduk di tepi sumur.
Tidak lama berselang, datanglah seorang wanita Samaria hendak menimba air.
“Berikan Aku minum,” seru Yesus kepada sang wanita. Tentu, sang wanita itu pun terperanjat. Hei, siapakah pria asing ini? Wanita ini pun sadar. Wah, ini orang Yahudi, ko’ mau minta air kepadaku yang memang seorang Samaria. Lancang benar pria ini, pikirnya.
“Aku tidak mempunyai timba, dan sumur ini pun sangat dalam.”
Sebetulnya, sang wanita itu secara halus menolak permintaan itu.
Mengapa sang wanita itu datang ke sumur justru pada pukul dua belas. Memang, aneh dan tidak lazim, orang menimba air pada siang hari.
Ternyata, Yesus sungguh tahu pergulatan nurani wanita malang itu.
Sang wanita itu memang sudah terlempar sangat jauh dari pergaulan, karena dia merasa malu dan juga merasa ditolak, karena kesalahan masa lalunya yang memalukan itu.
Yesus pun tahu, inilah kesempatan terbaik serta penuh rahmat untuk kembali mengakui, menerima, dan mengangkat kembali derajat kemanusiaan sang wanita yang telah anjlok.
Yesus Sang Hidup sanggup menemukan inti terdalam serta kerinduan terpendam dari dalam sanubari sang wanita itu. Yesus tahu, bahwa dia sangat membutuhkan peneguhan serta pengakuan akan eksistensi kemanusiaan sang wanita itu.
Yesus pun tahu, bahwa dia, wanita yang baik yang perlu dikasihani. Lalu Yesus pun tanpa ragu, mengulurkan tangan kasih-Nya demi menerima sang wanita malang itu.
Di dalam sikap keterperanjatannya, wanita itu, justru merasa dirinya sungguh diterima, diakui, dan bahkan dicintai.
Dia, sang wanita yang telah lama mengarungi ganasnya panas gurun kehidupan, namun kini, dia justru menerima anugerah rahmat cinta tanpa syarat dari Sang Yesus.
Saudaraku, ternyata, betapa banyak orang di sekeliling kita, yang hidup mental spiritualnya gersang merana dan terpental jauh dari pergaulan sosial.
Marilah kita, turut membantu, demi mengembalikan mereka ke dalam kandang hidup kita. Hindarilah sikap menghakimi, menjauhi, mengutuki, serta mencap jahat kepada mereka.
Belajarlah dari sikap serta cara bertindak Yesus demi merangkul kembali domba-domba yang tersesat.
“Tuhan, betapa Agung Cinta-Mu kepada kami orang berdosa ini!
…
Kediri, 9 April 2023
Mingguย Paska
…
Foto ilustrasi: Istimewa

