Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah kuasa dari mana datangnya dan ke mana perginya?”
[Red-Joss.com] Kuasa, atau kekuasaan: Orang berkuasa dengan mengemban sebuah jabatan lewat tugas serta kewenangan yang diberikan atau pun diperjuangkan.”
Jadi, kuasa adalah “amanah dan bukan kesewenang-wenangan.”
Kekuasaan itu suatu jabatan terhormat yang memiliki tiga tahap, yaitu:
- Tahapan awal : Sang Pemimpin mengawali tugasnya. Dia mulai melaksanakan programnya. Siapakah dia, sesungguhnya? Bagaimanakah sepak terjangnya pada awal kekuasaannya?
- Tahap tengah : Sang Pemimpin melaksanakan programnya pada puncak kekuasaanya. Bagaimanakah dia memainkan peran kuasanya pada puncak kekuasaannya?
- Tahap akhir : Sang Pemimpin segera akan mengakhiri pedang kekuasaannya secara konstitusional.
Dalam kondisi paling akhir, di ujung kekuasaan, pemimpin itu akan segera melepaskan tugasnya secara konstitusional.
Berhasil atau amburadul kinerjanya itu? Masyarakat yang akan mengevaluasi dan menilainya.
Apakah dia mengakhiri kinerjanya dengan mendapatkan banyak pujian, alias โhappy endingโ, atau justru berakhir tragis, alias โsad endingโ; dengan dihujani cercaan serta makian dari masyarakatnya?
Kualitas objektif seorang pemimpin, justru akan diuji pada saat menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya.
Seorang pemimpin diktator atau seorang demokratiskah dia? Seorang yang akan melepaskan jabatan itu secara ikhlas ataukah
haus jabatan?
Mari, kita refleksikan, apa jawaban Tuhan atas pemintaan Salomo?
“Engkau tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum. โฆAku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertianโฆ”
(1 Raja-raja, 3 : 11-12)
Kediri, 31 Juli 2023

