Oleh : Fr. M. Christoforus, BHK
“Berjalan hingga ke
batas dan berlayar
hingga ke pulau.”
(Peribahasa)
| Red-Joss.com | Hidup ini adalah sebuah ziarah. Kata sang arifin, “Manusia itu, makhluk yang senantiasa pergi.” Pergi ke mana? Mengapa sang manusia itu harus pergi? Saya pun teringat akan judul sebuah buku, “Asal dan Tujuan Hidup sang Manusia.”
Sesungguhnya, selaku ‘homo viator’ (manusia pengembara), adalah suatu yang riil, bahwa hidup serta kehidupan itu adalah suatu pergerakan. Bergerak dari satu titik ke titik berikutnya. Dari satu titik awal menuju ke titik paling akhir.
Sang filsuf Heraclitus (Yunani) menyebutnya, ‘Panta Rhei,’ segala sesuatu itu memang mengalir di dalam kehidupan. Artinya, di dalam kehidupan ini, semuanya akan mengalami perubahan konstan, karena segala sesuatu itu akan mengalir, walaupun tetap menyatu. (Prinsip, yang abadi itu hanyalah perubahan!)
Kehidupan ini memang terus berubah, dan kita pun turut berubah di dalamnya (tempora mutantur et nos mutamur in illis), kata orang Latin.
Di dalam proses perubahan itu, manusia pun turut bergerak. Kita pun berjalan beriring menuju ke batas impian kita. Semua raihan yang diperoleh selama di jalan, prestasi dan prestise adalah hiasan semata.
Saya pun teringat akan kisah pengembaraan bangsa Israel selama 40 tahun di kersang gurun menuju negeri yang dijanjikan Tuhan.
Demikianlah alur kisah kehidupan kita selaku umat manusia. Orang-orang yang tahu tujuan, bersikap tulus, tekun, serta setia, tentu akan selamat di jalan. Sedang si pendengki dan pendendam akan binasa. Entah, karena dipagut ular, kehausan atau kelaparan.
Mari, kita bersama seia sekata, dengan saling bergandengan tangan beriring, hingga ke ujung jalan!
Kediri, 11 Juli 2023

