Ketika konflik dengan keluarga, kita tidak mencari yang benar atau salah. Tapi yang utama dan penting adalah kita harus berjiwa besar dan kerelaan hati untuk mengalah. Bahkan kita tidak harus malu untuk meminta maaf terlebih dulu demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga.
Begitu pula di saat kita berbeban berat dan sulit, karena krisis ekonomi dunia. Kita tidak harus menyesali keadaan, kesalahan, atau menghukum diri. Usaha yang bangkrut, menganggur terlalu lama, dan seperti tidak ada teman yang mau peduli dengan kita. Tapi, sesungguhnya dalam keadaan berat dan sulit itu kita diajak untuk rendah hati dan mendekatkan diri pada Allah agar mencari hikmah, dan peka memahami rencana-Nya.
Dengan membuka hati, kita diajar untuk melihat hal yang baik dan positif dari saran dan nasihat anggota keluarga atau orang lain. Kita sadar diri dan berani berubah agar tidak sombong dan gengsian, tapi jadi pribadi yang rendah hati.
Sesungguhnya, apa pun peristiwa pahit, masalah, atau penderitaan itu memberi hikmah agar hidup ini berhikmat. Kita diingatkan dan ditempa agar tahan uji untuk jadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
Sesungguhnya, di saat terpuruk itu kita diajak melihat anugerah Allah yang luar biasa.
Caranya, dengan selalu bersyukur, kita diajak bangkit kembali untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Kita tinggalkan masa kelam dengan semangat berbagi pada sesama. Sehingga yang gelap gulita diubah jadi terang benderang, dan hidup makin bermakna.
Tetaplah semangat untuk berbagi.
…
Mas Redjo

