| Red-Joss.com | Saya terhenyak, ketika pertanyaan itu ditujukan kepada saya.
“Apa yang Pakdhe lakukan, jika Pakdhe menggantikan posisi saya?” Pertanyaan itu tidak mudah untuk dijawab dan dijabarkan. Butuh kejernihan pikiran dan kerendahan hati untuk menjawab dengan bijak.
Bagaimana tidak.
Kedua anak laki-lakinya menjalin hubungan dengan gadis yang jauh dari harapan orangtua.
Anak pertama Pak’E ingin menikahi gadis biasa yang adalah karyawan anaknya sendiri. Padahal gadis itu terbilang jauh dari cantik dan tidak ‘smart’.
Pak’E takut, jika anaknya diguna-gunai. Usaha anaknya lalu diambil alih oleh istri dan keluarga gadis itu.
“Betul, Be. Banyak gadis teman kuliah atau relasi bisnis yang cantik, tapi maaf, hal ini soal kecocokan hati.”
Berbeda lagi dengan anaknya yang bontot. Ia menjalin hubungan dengan mantan pacarnya lagi yang belum lama bercerai. Awalnya gadis itu sekadar curhat, lalu keterusan?
“Babe tidak melarangmu, Le. Tapi pandangan orang dan tetangga, kau bisa dituduh sebagai orang ketiga biang perceraian itu. Coba kau pikir baik-baik, efeknya pada keluarga juga…”
Ya, seandainya saya menggantikan posisi teman, hal itu tidak mudah.
Faktanya, banyak di antara kita yang mudah terperangkap prasangka buruk dan menilai orang lain dari kacamata sendiri.
Kita juga sering dihantui ketakutan yang tidak jelas, ketika mengaitkan soal hati itu dengan diguna-gunai, perusahaan yang dikuasai, diambil alih, dan seterusnya. Ketakutan yang belum tentu terwujud.
Sesungguhnya, kita mudah sekali menghakimi orang lain, karena kita tidak mau melihat realita dengan dua sudut pandang yang berbeda, dan secara obyektif.
Sebagai orangtua, kita sering kali membatasi diri dengan banyak kriteria yang menjauhkan, atau bahkan memisahkan kita dan anak sendiri. Padahal anak itu yang bakal menjalani dan mengisi masa depan bersama keluarganya.
“Maaf, jika saya mengalami sendiri, saya akan belajar berbesar hati untuk menerima kenyataan, meski hal itu pahit. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang mempunyai rezeki dan tujuan sendiri.”
“Sebagai orangtua, sesungguhnya kita hanya memberi keteladanan dan sebatas sumbang saran. Kita mengingatkan, mendukung, dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak. Kita belajar dari pohon, hidup untuk memberi, dan ikhlas.”
“Jadi saya harus berbesar hati dan ikhlas, Pakdhe?”
“Ya, agar hidup kita tenang, damai, dan bahagia.”
Selalu sertakan Allah dalam pikiran dan mengambil keputusan, karena hanya DIA yang mampu mengubah hati, dan selalu memberi kita yang terbaik.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

