“Kesuksesan itu dapat dicapai, ketika kita mengedepankan sikap rendah hati untuk selalu perbarui diri.” -Mas Redjo
…
Malu pada diri sendiri, jika kita tidak mau berubah untuk jadi makin baik. Kita tidak boleh mengecewakan harapan orangtua, terlebih lagi Tuhan yang anugerahi hidup ini.
Memotivasi untuk mengingatkan diri sendiri itu biasa saya lakukan agar tidak terlena dan berpuas diri dalam kenyamanan semu yang membuat saya jadi pemalas.
Caranya adalah, saya mencoba mencari hikmah dari peristiwa atau pengalaman pahit yang mendera hidup saya.
Sebagai contoh, ketika saya dijauhi sahabat karib, gara-gara saya tidak kuliah. Saya lalu rajin berburu buku loak di Pasar Senen atau di Jalan Kramat. Karena buku adalah jendela ilmu agar saya tidak jadi katak dalam tempurung.
Saya diremehkan orangtua pacar, karena bekerja freelance, alias tidak menetap. Saya lalu bekerja menetap di biro iklan, hingga jadi manager pemasaran.
Begitu pula, ketika resesi ekonomi tahun 1998 perusahaan tempat saya bekerja gulung tikar, bangkrut, dan saya menganggur.
Karena mencari pekerjaan yang sepadan itu tidak mudah, saya lalu berubah haluan dengan berjualan pakaian dari usaha konfeksi teman. Dari sini saya berkenalan dengan tukang sablon plastik.
Sambil berjualan pakaian, saya menawarkan jasa sablon plastik ke tukang roti, krupuk, dan umkm. Saya juga sering nongkrong di pasar tradisional untuk melihat arus ke luar masuk barang untuk mencari peluang usaha yang lain.
Berani berubah untuk perbaiki keadaan itu saya lakukan untuk menyiasati tantangan hidup jadi peluang usaha. Modal utamanya adalah, mau berjuang dan tidak gengsi, meski memulai dari bawah lagi.
Pengalaman hidup pahit itu tidak harus membuat saya jadi sakit hati atau mendendam pada orang lain dan keadaan, tapi untuk menempa diri agar saya jadi pejuang yang ulet, tabah, dan tangguh!
Sakit hati itu membuat kita mudah terluka dan jadi pendendam. Tapi semangat hidup untuk rendah hati adalah obat mujarab agar kita jadi pemenang kehidupan.
…
Mas Redjo

