RedJoss.com – “Kang, kau dijelek jelekin.” Biarin! “Kau difitnah!” Biarin!
“Tokomu dibobol!” Biarin!
“Si A nggak mau bayar hutang, tapi malah beli mobil.” Biarin!
“Lho, semua kok dibiarin?!”
Lha, kita bisa berbuat apa?! Kalau jelek itu fakta, ya, kita terima. Untuk apa sewot. Kalau kita cantik atau ganteng lalu dijelekin, apakah lalu berkurang?
Begitu pula kalau difitnah. Kita melakukannya atau tidak. Orang mempunyai mulut itu bebas untuk ngomong apa saja, silakan. Gitu aja kok pusing dan diributin.
Sekiranya toko kita dibobol, ya, sebaiknya kita mawas diri. Kenapa orang yang kita percaya, melakukan itu. Kalau yang membobol itu orang lain, berarti dia sedang membutuhkan uang. Kita sendiri yang teledor. Hal itu tidak perlu disesali. Lebih baik ke depannya kita berhati-hati.
Begitu pula dengan orang yang berhutang itu, lebih baik kita mengingatkan. Kalau ditagih, dia lebih galak, atau bahkan tidak mau bayar dan ngemplang? Ya, itu urusan dia.
Apa kita mau mengkasuskan dia dan mempidanakan? Toh dia tidak menipu. Memperdatakan? Kalau dia nggak sanggup bayar, atau dia lalu pindah rumah, kita mau mencari ke mana? Buang energi, uang, bahkan kita pusing sendiri. Kita lalu malas bekerja, karena mikirin hutang yang tidak dibayar. Apa begitu?!
Kita lahir dan mati, datang dan pergi, kita tidak membawa harta. Hutang yang tidak dibayar, ya, kita serahkan pada Dia Sang
Pemilik yang memberi kita hak pinjam dan pakai.
Hutang itu hukumnya haram. Apakah kita sadar hutang itu dibawa mati, lalu kita ditagih di akherat?
“Untuk datang padaKu, hendaknya kau berdamai dengan saudaramu terlebih dulu.” (Matius 5:24)
Intinya, kita harus membereskan urusan dunia terlebih dahulu yang menjadi tanggung jawab kita. Untuk berdamai, mohon maaf, dan ampunan pada sesama sebelum kita menghadap padaNya.
Ya, kenapa kita sering dipusingi dengan hal-hal remeh? Memikirkan omongan orang lain yang tak ada gunanya. Beradu argumentasi untuk menjelaskan hal yang tidak perlu, menangkis fitnah, dan sejenisnya.
Padahal, siapa menjelekkan, mendendam, memfitnah, atau membenci orang lain berarti melukai diri sendiri.
Yang lebih penting untuk diingat adalah agar hidup kita bermanfaat untuk orang lain.
Hidup yang tidak mendatangkan masalah, tapi membawa berkat untuk sesama.
Hidup ini hendak dibawa ke mana, kita sendiri yang menentukan. Pikiran dan kehendak kita yang memutuskan.
Alangkah bijak, jika penilaian orang lain kita terima sebagai bahan untuk mawas diri. Yang jelek dan kontra produktif disingkirkan dan dibuang. Sebaliknya yang baik dan positif kita ambil hikmahnya.
Sebagai orang beriman, hendaknya kita hidup dalam kasih Allah. Untuk lebih peduli dan murah hati agar kasih itu sempurna. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

