Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan mencari-Nya di tengah semak-semak berduri yang dapat melukai kakimu. Carilah Dia di dalam hatimu, karena di situlah Ia bersemayam.”
(Baba Farid)
…
“Ia tidak terpisahkan oleh dinding-dinding beton yang memisahkan masjid dari gereja, vihara dari pura. Ia utuh dan dalam keutuhan-Nya, Ia berada di dalam diri kita. Carilah Dia dalam diri Anda sendiri.”
(Anand Krishna, Renungan Harian Penunjang Meditasi).
Pergulatan Salah Arah dan Salah Kaprah
Inilah persoalan mendasar yang bercokol di dalam nurani manusia. Pergulatan manusia yang sibuk mencari-cari Sang Kebenaran hanya sesuai kalkulasi nalar dan persepsi personalnya. Inilah pula sebuah fenomena yang bagaikan nyala dan jilatan api kepicikan, tirai perpecahan, fanatisme buta, serta bibit-bibit sifat keangkuhan sang manusia dina papa yang bernurani picik serta sarat kedengkian. Sebuah realitas yang mengusik ketenteraman dan kedamaian hidup.
Kini kian bertumbuh subur jilatan lidah-lidah api perpecahan di kalangan kita sebangsa atas nama kepicikan, fanatisme, dan kebodohan nurani lewat propaganda sesat serta fanatisme buta.
Merasa Tuhan sebagai Miliknya
Ada pihak atau orang yang dengan gagah berani mengklaim, bahwa Tuhan, Sang Maha Pencipta itu seolah sebagai Tuhannya sendiri. Sedangkan pihak lain diklaimnya sebagai jenis manusia kelas bawah alias si calon penghuni neraka.
Sebuah Pertanyaan Kritis Menantang
Apa esensi dan alasan mendasar dari klaimnya itu? Bukankah lewat cara dan sikap gila hormat ini, seseorang itu justru telah menjerumuskan dirinya ke dalam lembah kepicikan serta sikap fanatisme semu?
Sesuai iman dan keyakinan kita, bahwa Tuhan telah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia dari berbagai bangsa dan zaman itu atas dasar kasih-Nya.
Kasih Tanda Kehadiran Tuhan
Kita jangan gampang terjerumus ke dalam sikap dan tindakan buta sebagai isyarat betapa picik serta bodohnya kita ini.
Sungguh mustahil, bahwa Sang Dia yang Maha Sempurna itu akan mengotak-kotakan ciptaan-Nya ke dalam lembah perpecahan dan api kedengkian.
Bukankah Dia adalah Sang Maha Kasih nan Abadi? Juga bukankah kita ini diciptakan-Nya sesuai dengan potret Diri-Nya?
“Inilah tandanya, jika kamu adalah sungguh sebagai murid-Ku, jika kamu pun saling mengasihi!”
Mari kita hidup di dalam persekutuan sejati dengan sikap saling mengasihi sebagai tanda, bahwa kita berasal dan bersumber dari Sang Maha Esa itu.
Aku dan Bapak adalah satu! Hendaklah kamu pun saling mengasihi!
Deus Caritas est!
…
Kediri, 24ย Septemberย 2024

