Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Puisi Kerinduan
Buat Sahabat di Ujung
Jalan
Sahabat baikku
kini kurangkai lagi alur kisah kita
Kisah kita
seolah berlari sahabat
relakah kau sesaat mengenangnya lagi?
Hari ini,
di ujung senja sepi kuingatmu lagi
Dan kisah ini seolah tersobek senandung lagi
walau berbalut rentang waktu
(Pada Sepotong Catatan)
…
Goresan yang berupa sebuah memori ini, ditulis atas dorongan nuranimu, di saat saya sempat membaca seuntai kalimat dari mantan siswa yang saat ini sedang berkuliah.
Lewat media Facebook, seorang mantan Guru Pramuka menshare beberapa lembar foto kenangan dari aktivitas perkemahan di kota Batu, Malang, Jatim.
Siswa itu pun menulis demikian, “Para sahabatku, di manakah kalian kini, saya ingin bertemu denganmu lagi.”
(Kutipan bebas)
Setelah saya membaca untaian kalimat itu, hatiku turut terseret dalam arus keharuan. Sesadarku, bahwa benar juga, kerinduan sang siswa ini.
Saya lalu menulis seuntai kalimat, “Nak, kamu tidak sendirian. Jangan takut, waktu akan membawamu menuju ke sebuah titik jumpa, walau entah kapan dan bilamanaโฆ”
(Kutipan bebas).
Siswa itu pun membalas, “Ya, saya menunggu saat itu, walau saya juga tidak tahu, kapan itu akan tiba.” (Kutipan bebas).
Di pagi hari yang sama, (Kamis, 11/7/2O24), saya juga menerima ucapan selamat pagi dari seorang sahabat pensiunan Guru dari Surabaya. Tulisnya demikian, “Saudaraku, banyak orang yang mungkin sempat kamu ingat dalam hatimu, namun percayalah mungkin, hanya sedikit yang mengenangmu!”
Kini, saya sadar, bahwa dalam ziarah hidup ini, pernah juga terlontar sebuah statemen lama bahwa, “Manusia itu makhluk yang senantiasa pergi.”
“Panta rhei,” “Semuanya akan mengalir dan tak pernah ada yang akan menetap abadi.”
(Filsuf Heraclitos).
Di Manakah Mereka? Sebuah pertanyaan yang biasanya akan terlontar spontan tatkala Anda pun saya sedang sibuk mencari sesama hidup.
Ya, itulah kita, sang makhluk manusia, si jenius yang sering pontang-panting serta luntang-lantung di atas datar jagad hidup ini.
Ya, kita pun makhluk yang sering menderita dalam panas bara api kesendirian dan kesepian yang kadangkala hingga sungguh menakutkan.
Memori tulus kita dalam kesunyian kadang akan meratap sendu mencari dan merindu akan suatu komunitas kebersamaan selaku makhluk sosial sejati.
Demikian ingatan serta kerinduan kita tak sudi surut ditelan sang waktu. Dia, akan dan senantiasa seolah tersadar lagi dari mimpi panjang untuk boleh mengenangnya kembali.
“Kisah kita seolah berlari sahabat, relakah kau, walau hanya sesaat untuk mengenangnya lagi?”
…
Kediri,ย 18ย Juliย 2024

