Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tapi kita memiliki harta ini dalam bejana tanah liat, supaya kelihatannya, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu adalah dari Allah, bukan dari kita.”
(2 Korintus 4: 7)
Kebijaksanaan Allah
Sesungguhnya, Sang Kebijaksanaan telah mengajarkan kita, bahwa “Rancangan Allah tidaklah sama dengan rancangan manusia. Pikiran Allah tidaklah selalu sama dengan pikiran manusia. Bahkan Allah memperlihatkan keagungan-Nya justru lewat segala sesuatu yang tampaknya sederhana, kecil, dan sering kali tidak diperhitungkan oleh hati manusia.”
Mari Mencermati Kisah ini
Ada sebuah dialog bermakna, antara Penasihat Raja, Yoshua dengan Putri Raja.
Putri Raja sering merasa cemburu kepada Yoshua, karena Raja sangat percaya kepadanya.
“Jika Engkau sungguh bijaksana, mengapa Allah memilih menyimpan begitu banyak kebijaksanaan di dalam bejana yang demikian sederhana?”
Yoshua bertanya balik kepada Putri itu, “Apakah Ayahmu mempunyai anggur?”
“Setiap orang pasti tahu, bahwa Ayahku punya banyak anggur yang terbaik.”
“Tapi, di mana Ayahmu menyimpannya?”
“Loh, tentu saja di dalam bejana tanah liat,” jawab Putri itu ketus.
“Oh, maaf…!” kata Yoshua sambil tertawa. “saya terkejut, bahwa orang seagung Ayahmu, koq menyimpan anggur di tempat yang sesederhana itu.”
“Seharusnya, Ayahmu menyimpannya di tempat yang mewah.”
Maka, bergegaslah Putri Raja itu dan memerintahkan para pelayan untuk menyimpan anggur di dalam bejana emas.
Tak lama berselang, Raja menjamu banyak tamu terhormat di istana. Tatkala para tamu itu mencicipi anggur, seketika wajah mereka pun berkerut, karena anggur itu terasa asam.
Raja pun marah. Putri Raja itu sangat marah kepada Yoshua yang dianggapnya telah menipunya.
“Saya sangat menyesal, Nak. Tapi mungkin engkau mulai bisa mengerti sekarang, mengapa Allah lebih suka meletakkan kebijaksanaan-Nya di dalam tempat yang sederhana. Bukankah kebijaksanaan itu seperti anggur, disimpan di dalam bejana sederhana,” sahut Yoshua.
William White
(1500 Cerita Bermakna).
Makna Filosofis
Bukankah kebijaksanaan Allah pun sering kali tidak terlihat di dalam kemewahan, melainkan dalam hal-hal yang sederhana dan rendah hati. Anggur yang disimpan dalam bejana sederhana itu, artinya nilai-nilai dan kualitas sesuatu itu tidak ditentukan oleh penampilan luarnya, tapi justru oleh isi serta maknanya, bukan?
Dalam konteks ini, Allah bebas memilih untuk meletakkan kebijaksanaan-Nya dalam hati orang-orang yang sederhana, rendah hati, dan tidak menonjol. Sehingga menunjukkan, bahwa kebijaksanaan sejati itu tidak berasal dari kekuatan atau kekuasaan, tapi dari kesederhanaan dan kerendahan hati.
Refleksi
Hal itu mau mengingatkan kita agar tidak menilai segala sesuatu “berdasarkan penampilan luar, tapi untuk mencari nilai dan makna yang lebih dalam.”
“Berbahagialah orang-orang yang bijaksana hidupnya, karena Allah sudi bersemayam di kemah kediamannya!”
Kediri, 26 Maret 2026

