Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat.”
(Amanah Luhur Soekarno-Hatta)
Sebuah Jalan Terjal
Jalan terjal rakyat dalam menggapai keadilan dan kesejahteraan berakhir dengan perlawanan. Ketika saluran perubahan formal tidak berfungsi lagi dan aspirasi bersama tidak didengarkan sama sekali, rakyat akhirnya memilih turun ke jalan-jalan sebagai bentuk perlawanan politik. Hanya dengan perlawanan politik yang masif dan dalam skala besar, pemerintah mau dipaksa untuk menyadari dan memperbaiki kesalahannya. Demikian isi paragraf pertama kolom ‘analisis politik’ dari Sukidi, pemikir kebinekaan, dalam kolom umum Kompas, Kamis, (11/9/2025) berjudul, “Keadilan yang Dirindukan.”
Sederetan Pernyataan Ketidakpercayaan Rakyat pada Pengelola Bangsa ini
Selanjutnya Sukidi menderetkan sejumlah “pernyataan ketidakpercayaan rakyat” kepada: pemerintah, parlemen, pengadilan, birokrasi, polisi, tentara, dan berbagai institusi lainnya.
Antara lain:
- Rakyat tidak percaya lagi dengan yang tentara katakan tentang supremasi sipil, karena mereka melihat dengan terang yang mereka kerjakan melalui supremasi militer;
- Rakyat tidak percaya pula dengan yang wakil rakyat katakan tentang kesejahteraan, karena melihat sendiri yang dikerjakan wakilnya itu secara serakah;
- Rakyat tidak percaya lagi dengan yang aparat keamanan katakan tentang keselamatan, karena melihat dengan jelas yang polisi dan tentara kerjakan;
- Rakyat tidak lagi percaya dengan yang penegak hukum katakan tentang keadilan, karena melihat yang mereka kerjakan dalam jaringan mafia peradilan.
Itulah sejumlah paradoks yang sudah terjadi secara kasat mata di negeri yang dianggap paling religius di dunia ini.
Dari mana datangnya semua praktik dan cara kerja yang tidak konsisten serta jauh dari sikap berintegritas ini?
Inilah Jawaban paling Telak dari Sukidi
Akar utama masalah bangsa terletak pada kegagalan besar pemerintah dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi mayoritas rakyat. Di tengah meluasnya ketidakamanan ekonomi dan kecemasan sosial, rakyat ingin memperoleh jaminan negara agar bisa benar-benar merasakan arti penting janji keadilan dan kesejahteraan yang nyata bagi kehidupan sehari-hari.
‘Jika akar masalah bangsa ini tidak direspons dengan kebijakan politik dan ekonomi yang tepat, percayalah, bahwa bangsa ini hanya menunda waktu akan terjadinya krisis ekonomi yang bertemu dengan krisis kepercayaan rakyat pada kegagalan pemerintah,’ demikian statemen paling akhir dalam tulisannya.
“Suum cuique tribuere”
(Berikan kepada setiap orang yang jadi haknya).
“Bukankah, semua yang busuk itu akan berbau juga?”
Kediri, 13 September 2025

