Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Vitam Impendere Vero”
Mengorbankan Kehidupan demi Kebenaran.”
(Juvenalis)
Pandangan Yuvenalis
Lewat adagium “Vitam Impendere Vero,” Juvenalis mau memperlihatkan sesosok figur yang memiliki keberanian secara moral. Bahwa sebuah keberanian perlu diperjuangkan walau untuk itu diminta adanya pengorbanan.
Realitas Menantang dalam Hidup Kita
Kita sering ‘merasa ragu’ kala berhadapan dengan sebuah realitas yang terkesan pincang. Artinya di satu sisi orang tampak sangat tekun dan setia menjalankan ajaran agamanya, tapi di sisi yang lain terkesan juga, bahwa kualitas atau nilai keberagamaannya itu justru tidak tampak dalam sikap hidup dan perilakunya. Bukankah idealnya, bahwa sikap beriman itu akan terekspresi lewat gaya hidup seorang manusia? Betapa ironisnya, jika seorang yang tekun beragama, namun ucapannya justru penuh dengan kutukan dan umpatan? Atau di tangan kirinya ia menggenggam erat Kitab Suci agamanya, tangan kanannya sedang mencekik sesamanya, dan dari mulutnya serentak terucap kata-kata penuh kutukan? Dalam kondisi kontradiktif ini, ‘orang memang sudah beragama, tapi belum beriman.’ Artinya imannya itu tidak terekspresi lewat sikap hidupnya.
Cerita Pria Gelandangan
Hari Minggu di musim gugur. Parkiran Gereja sudah penuh. Saat saya ke luar dari mobilku, terdengar riuh bisikan cemooh yang terlontar dari bibir sesama jemaat. Mereka berbisik sambil menuju ke Gereja.
Sesaat kemudian, tampak olehku seorang pria sedang terbaring di emperan Gereja. Dia tampak sedang tertidur pulas. Tubuhnya dililiti mantel usang dan sebuah topi hitam di kepalanya. Tampak juga sepatu kumalnya yang sudah sobek di kakinya.
Jemaat tahu, bahwa pria ini tentu seorang gelandangan kota. Aku pun segera memasuki gerbang gereja untuk berdoa.
Di dalam gereja jemaat sedang ramai mempercakapkan hal si pria gelandangan itu. Tidak sedikit jemaat yang mengumpatnya dan juga tak seorang pun yang mengajaknya untuk masuk ke dalam gereja.
Kemudian kebaktian dimulai. Kami sedang menunggu Pendeta yang akan tampil di mimbar untuk membawakan khotbah Mingguan.
Ketika pintu gereja dibuka, muncullah pria gelandangan itu. Semua mata terbelalak dan berpikir, bahwa siapakah dan hendak berbuat apakah gelandangan itu.
Pria itu pun bahkan berani tampil di mimbar khotbah. Ia lalu melepaskan topi dan mantelnya. Betapa hati kami pun terguncang keras.
Ternyata di mimbar agung itu, berdirilah si Pendeta kami. Kini tidak seorang pun yang betani bergerak, semua jemaat diam terpaku.
Dibukanya Al Kitab dengan perlahan, lalu dalam sepi nan hening terdengar lantang serta berwibawa suaranya, “Jemaatku, saya kira tidak perlu bagi saya untuk mengatakan apa yang akan saya khotbahkan hari ini. Jika kamu terus menghakimi dan menilai orang, kamu tidak akan mempunyai waktu untuk mengasihi mereka.”
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Jubah Keagamaan bukanlah Jaminan
Sesungguhnya seutas ‘jubah keagamaan’ yang meliliti tubuh jasmani dina papa kita, tidaklah sekaligus sebagai sebuah jaminan mutu. Kondisi riil kita sering kali ibarat ‘jauh panggang dari api.’ Lain di bibir, lain pula di hati. Alias tidak ada keterpaduan erat antara yang lahiriah dan yang batiniah. Jomplang!
“Bukankah iman yang hidup, itu yang kita cari?” Kualitas iman yang akan terekspresi lewat seluruh gerak hidup seseorang yang beragama? Iman yang akan berujung pada tindakan nyata? Itulah yang disebut ‘buah-buah iman.’
Sungguh, betapa cerdas Pendeta ini yang telah sukses menguji coba alias mengetes isi serta kualitas iman para jemaatnya. Dia pun tentu sangat kecewa setelah mengetahui sikap serta reaksi batin para jemaatnya. Oh, ternyata hanya setingkat itu, kualitas iman jemaatku!
Refleksi
- Iman yang benar dan hidup akan terwujud lewat seluruh sikap hidup manusia.
- Hati manusia itu ibarat sebuah wadah yang perlu terus dijernihkan dan diasah lewat spirit kerendahan hati.
- Kita memang sudah beragama, tapi mungkin belum beriman.
“I’m not a saint, I’m a sinner, but I try to serve God with all my heart“
(Mother Theresa)
…
Kediri, 13 Januari 2026

