Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saya hanya ingin ada bersamamu.”
(Jeritan Nurani Anakmu)
Kerinduan Terdalam sebagai Kebutuhan Primer Manusia
Kerinduan terdalam yang selalu bercokol mesra di dalam sanubari setiap anak manusia ialah “ada dan kehadiran dari sesamanya untuk tetap setia berada di sampingnya.” Itulah sebuah kerinduan mendalam untuk diperhatikan dan dicintai. Itulah pula sebuah kebutuhan primer dari jiwa nan kersang dari setiap anak manusia.
Kehadiran Orangtua
Di saat seorang dokter sedang tekun belajar tentang ilmu kedokteran, masuklah anak laki-lakinya dan berdiri dengan tenang tepat di sampingnya. Ketika itu, sang dokter merogoh saku jubahnya dan menyodorkan uang receh kepada anaknya itu.
“Saya sama sekali tidak membutuhkan uang, Ayah,” kata anaknya.
Sesaat kemudian, sang Ayah membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan gula-gula dan disodorkan kepada anaknya itu. Juga kali ini, anaknya tetap menolak tawaran itu.
Dalam kondisi yang seolah sudah kehilangan kesabarannya, dokter yang sangat sibuk itu bertanya, “Nak apa sesungguhnya, yang kamu inginkan?”
“Ayah, saya tidak menginginkan apa-apa. Saya hanya menginginkan Ayah tetap ada bersama saya.” Demikian sahut anak itu.
Lovasik
(1500 Cerita Bermakna)
Apa Kebutuhan Utama Jiwa Manusia?
Jangan sekali-kali kita berpikir keliru, karena hal yang paling dibutuhkan jiwa manusia, ternyata bukan berupa ‘harta benda duniawi.’ Bukan segepok uang tunai, atau emas permata, dan bukan pula sebuah mobil mewah, melainkan justru ‘kerinduan untuk dikasihi dan dicintai.’ Itulah kebutuhan fundamental jiwa manusia.
Mengapa justru demikian? Bukankah semua harta duniawi itu pun seketika akan musnah? Karena hanya tersimpan dan teronggok karatan di dalam sebuah lemari yang juga kelak akan rusak?
“Carilah dulu Kerajaan Surga, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu,” demikian sabda Sang Guru Ilahi.
Ya, memang benarlah demikian. Sesungguhnya, permasalahan itulah yang selalu menghantui hidup manusia. Itulah sebuah pergulatan turun temurun yang seolah-olah telah diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Itulah yang dinamakan sebuah kemelekatan, sebuah altar sembahan yang bersifat sangat kedagingan, namun justru yang paling diincar-incar dan dimimpikan-mimpikan, bahkan oleh hampir setiap manusia.
Mari Kita Kembali ke Jalan Kebijaksanaan
Mari agar kita segera kembali ke jalan yang benar, jalan kebijaksanaan, sekalipun hanya lewat sebuah lorong kecil menuju keselamatan.
Refleksi
Bukankah, ketika kita datang ke dunia ini, dalam keadaan telanjang dan bertangan hampa, dan di saat kembali nanti, kita pun hanya akan dililiti seutas kain kafan fana?
Hendaklah para orangtua sungguh sadar akan pentingnya kehadiran mereka bersama para buah hatinya!
Kediri, 4 Oktober 2025

