Fr. M. Christoforus, BHK
“Akar dari segala kejahatan bersumber dari dalam hatimu.”
(Didaktika Hidup Rohani)
Ala Bisa karena Biasa
Ternyata akar dari segala kejahatan itu justru bercokol di dan dari dalam sanubari kita. Dari dalam hati Anda dan saya, ya, dari dalam hati kita semua.
Adalah sebuah ungkapan yang sangat tepat yang mau menggambarkan, bahwa ‘betapa rapuhnya kemanusiaan kita.’ Ungkapan itu ialah, “Ala bisa karena biasa.”
Jadi, jika kita rajin membiasakan diri untuk melakukan atau mempraktikan sebuah kebiasaan buruk, maka hal itu ibarat kita sedang memelihara sebatang pohon. Ketika kita setia merawatnya, maka ia akan bertumbuh subur dan juga bakal menghasilkan buah berlimpah, bukan?
Hati Nurani
Mari cermati dengan saksama kisah ilustrasi berikut ini.
Jimmy bekerja di sebuah toko bahan makanan. Suatu hari, masuklah seorang pelanggan belanja sejumlah bahan makanan. Setelah tuntas, didekatnya pelayanan toko sambil berbisik.
“Berilah beberapa lagi! Dulu, karyawan di sini selalu melakukan hal itu agar mereka mendapatkan uang persenan.”
“Tidak saudara, saya tak akan melakukan kebiasaan terkutuk itu. Atasan saya akan sangat marah, jika kelak beliau mengetahui hal itu,” balas Jimmy.
“Tapi, Atasanmu kan tidak ada di sini sekarang, bukan?”
“Oh, maaf. Atasanku di setiap saat selalu berada di sini. Dia, berada di sini dan bahkan kini sedang bersemayam di dalam hati saya.”
Godaan itu selalu Menghampiri Kita
“Setan itu selalu ada dan bahkan sedang berkeliaran. Lawalah dia, teguh dalam iman.” Inilah sepotong amanat agung dari Kitab Suci.
Kita perlu sadar dan bermawas diri, karena sudah sangat riil, bahwa kemanusiaan kita ini memang lemah dan sangat mudah termakan bujuk rayu Iblis laknat.
Senjata Iman
Maka, sewajarnya kita perlu berwaspada dengan mempersenjatai diri dengan iman yang teguh. Ingat akan ucapan Kristus kepada Petrus, “Imanmu kuat, tapi daging itu lemah.”
Maka, berdoalah dan berjaga-jagalah selalu!
“Kini, sadarlah aku bahwa sesungguhnya, Tuhanlah Atasan serta hidup pun matiku!”
Kediri, 23 Desember 2024

